Pemerintah Indonesia tengah mengakselerasi pembentukan pusat keuangan internasional atau International Financial Center (IFC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Proyek yang berlokasi di Desa Serangan ini diproyeksikan menjadi episentrum finansial baru untuk menarik modal global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan konfirmasi mengenai pematangan regulasi sektor keuangan yang akan diterapkan di kawasan tersebut. Langkah ini diambil untuk menciptakan stabilitas dan kepastian hukum bagi investor asing di tengah dinamika geopolitik dunia.
Dikutip dari Kompas, pengembangan pusat keuangan ini akan dikelola melalui koordinasi ketat dengan Danantara. Pemerintah memiliki ambisi besar untuk mereplikasi kesuksesan Dubai International Financial Centre (DIFC) dalam membangun lingkungan bisnis yang progresif.
Keseriusan pemerintah dalam mengawal realisasi investasi terlihat dari peninjauan lapangan yang dilakukan Menko Airlangga bersama jajaran direksi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Hadir dalam peninjauan tersebut CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, serta COO BPI Danantara, Dony Oskaria.
Area IFC direncanakan menempati zona Knowledge District, sebuah wilayah yang dirancang khusus untuk mengonversi modal intelektual menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur ini diharapkan menjadi tumpuan ekosistem inovasi yang terintegrasi dengan pengembangan sumber daya manusia.
Presiden Direktur PT Bali Turtle Island Development (BTID), Tuti Hadiputranto, menekankan bahwa kawasan ini telah menyiapkan fondasi fisik dan kemitraan global yang kuat. KEK Kura Kura Bali diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah untuk memperkuat sektor keuangan nasional.
"Apa yang KEK Kura Kura Bali bisa tawarkan untuk lokasi IFC? Nanti agar dibicarakan langsung dengan Danantara. Regulasi itu akan menjadi landasan pembentukan KEK sektor keuangan yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan pendirian pusat keuangan, mulai dari skema pengelolaan hingga fasilitas yang dapat menarik investor global," tutur Airlangga pada Jumat (1/5/2026).
Fasilitas Keberlanjutan dan Infrastruktur Pendukung
Selain fokus pada transaksi finansial, KEK Kura Kura Bali memperkuat profilnya sebagai kawasan berkelanjutan. Wilayah ini akan menampung berbagai lembaga penting seperti Global Blended Finance Alliance (GBFA) dan International Mangrove Research Center (IMRC).
Sektor pendidikan juga mendapat perhatian dengan hadirnya sekolah interkultural ACS Bali. Integrasi antara riset lingkungan, pendidikan, dan layanan keuangan diharapkan menciptakan transformasi ekonomi yang tangguh bagi masyarakat Bali.
Di sisi komersial, proyek pusat perbelanjaan mewah hasil kerja sama dengan Mitsubishi Estate dari Jepang dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Kehadiran fasilitas retail kelas dunia ini menegaskan status kawasan sebagai ekosistem hidup yang fungsional.
"Kami telah menyiapkan infrastruktur fisik, kelembagaan, dan kemitraan global yang dibutuhkan untuk menjadikan Kura Kura Bali rumah bagi KEK Sektor Keuangan Indonesia. KEK Kura Kura Bali merupakan ekosistem hidup yang sudah berjalan serta menjadi mitra strategis pemerintah," kata Tuti.
Pemerintah optimis bahwa dengan payung hukum yang kuat dan pemberian insentif masif, arus investasi asing akan mengalir deras ke tanah air melalui pintu gerbang Bali ini.