Red Hat Prediksi Adopsi AI dan Hybrid Cloud Tumbuh Pesat di Asia Pasifik

Red Hat Prediksi Adopsi AI dan Hybrid Cloud Tumbuh Pesat di Asia Pasifik
Foto: Ilustrasi Red Hat Prediksi Adopsi AI dan Hybrid Cloud Tumbuh Pesat di Asia Pasifik.

Red Hat memproyeksikan adanya pertumbuhan yang sangat kuat dan berkelanjutan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hybrid cloud, virtualisasi, serta otomatisasi di wilayah Asia Pasifik (APAC).

Permintaan terhadap infrastruktur perusahaan yang aman dan berbasis AI kini semakin meningkat, terutama yang memiliki kemampuan remediasi kerentanan secara cepat, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

"Organisasi akan terus menyeimbangkan modernisasi dengan kebutuhan dukungan jangka panjang untuk workload yang stabil dan sistem legacy," kata Vincent Caldeira, CTO of APAC Red Hat dalam sesi media virtual di Jakarta.

Peningkatan kepatuhan dan tata kelola data mendorong enterprise serta instansi pemerintah untuk memperkuat adopsi sovereign cloud. Operasional berbasis AI dan workload agentic juga diperkirakan menjadi standar umum baru.

Investasi utama perusahaan sepanjang tahun 2026 diprediksi tetap berfokus pada modernisasi OpenShift dan virtualisasi. Kawasan APAC kini bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pusat inovasi utama dalam pengembangan open source dunia.

"Red Hat memperkirakan meningkatnya permintaan enterprise terhadap platform yang berbasis kebijakan, compliant, aman, dan mampu mendukung lingkungan AI serta cloud-native dalam skala besar," ujar Vincent.

Daniel Aw, VP dan General Manager Red Hat APAC, menambahkan bahwa teknologi sumber terbuka tetap menjadi fondasi utama inovasi AI. Fokus bisnis kini bergeser pada penerapan AI yang tepercaya dalam lingkungan produksi.

"Red Hat akan kembali memainkan peran besar dalam era ini, untuk membawa inovasi cepat open source ke dalam lingkungan enterprise. Pasar Asia Pasifik memberikan peluang besar bagi kami untuk mendorong inovasi open source kepada pelanggan," tutur Daniel.

Fleksibilitas platform menjadi keunggulan yang ditawarkan agar pelanggan memiliki kebebasan memilih di tengah perkembangan teknologi yang dinamis. Infrastruktur dan alat bantu AI dirancang untuk saling terhubung secara berkelanjutan.

"Red Hat memastikan platform, infrastruktur, dan tools AI dapat bekerja secara terhubung untuk membantu pelanggan membangun AI secara lebih efektif dan berkelanjutan," kata Fytos Charalambidas, VP of Technology Sales Red Hat APAC.

Sebagai langkah nyata, Red Hat memperkenalkan kapabilitas baru yang mencakup seluruh siklus hidup AI. Inovasi tersebut meliputi manajemen data, evaluasi model, hingga penerapan agen AI yang kini banyak diminati oleh pelaku industri.

Fitur baru seperti AutoRAG hadir untuk menyederhanakan retrieval-augmented generation melalui integrasi data perusahaan yang lebih baik. Selain itu, diluncurkan pula Evaluation Hub sebagai pusat kontrol untuk menilai performa sistem AI secara menyeluruh.

Red Hat juga meningkatkan AI Inference Server dengan teknik speculative decoding demi efisiensi biaya. Layanan "Model-as-a-Service" kini memungkinkan pengembang menggunakan model AI melalui API tanpa harus mengelola infrastruktur GPU secara mandiri.

"Pengumuman fitur keamanan AI baru, termasuk automated red teaming melalui integrasi dengan proyek NVIDIA Garak," kata Vincent.

Artikel terkait

Rekomendasi