Ratusan Siswa Surabaya Keracunan Massal Akibat Program Makanan Bergizi Gratis

Ratusan Siswa Surabaya Keracunan Massal Akibat Program Makanan Bergizi Gratis
Foto: Ilustrasi Ratusan Siswa Surabaya Keracunan Massal Akibat Program Makanan Bergizi Gratis.

Kasus keracunan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi pada Mei 2026. Sebanyak 200 siswa dari jenjang TK, SD, hingga SMP di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya, mengalami keracunan massal, seperti dilansir dari Regional.

Seluruh korban diketahui menerima pasokan makanan dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama. Menu yang diduga menjadi penyebab utama insiden ini adalah olahan daging krengsengan, meski kepastiannya masih menunggu uji laboratorium.

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh atas peristiwa tersebut. Sebagai langkah pencegahan, operasional dapur di SPPG Tembok Dukuh dihentikan untuk sementara waktu.

"Kami akan evaluasi dahulu. Setelah itu dapur ini masih kami tutup sementara waktu," ujar Teguh, Senin (11/5/2026).

Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, menjelaskan bahwa distribusi makanan langsung disetop begitu laporan keracunan masuk. Dapur yang beroperasi sejak 2 Februari 2026 ini biasanya melayani 13 sekolah dengan total sekitar 3.020 porsi setiap hari, namun saat kejadian baru tersalurkan 2.000 porsi.

Pihak SPPG juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga korban. Penyelenggara memastikan seluruh biaya pengobatan medis siswa yang terdampak akan ditanggung sepenuhnya.

Langkah Pertolongan Pertama pada Kasus Keracunan

Kasus ini menjadi evaluasi besar bagi pengawasan kualitas bahan baku dan distribusi program MBG. Untuk mengantisipasi dampak fatal, penting bagi masyarakat memahami langkah penanganan dini saat menghadapi gejala keracunan makanan.

1. Istirahat Total dan Penuhi Cairan

Korban keracunan wajib beristirahat dan menghindari aktivitas fisik yang berat. Guna mencegah dehidrasi akibat muntah atau diare, konsumsi cairan dalam jumlah banyak sangat dianjurkan, seperti air putih atau larutan elektrolit.

2. Atur Asupan Makanan dan Minuman

Hindari mengonsumsi makanan padat, pedas, dan berminyak hingga gejala diare mereda. Jauhi pula minuman berkafein, alkohol, susu, serta cairan asam, lalu beralih ke makanan lembut seperti bubur atau pisang. Air jahe juga baik untuk menenangkan pencernaan.

3. Jangan Memaksa untuk Muntah

Memaksa muntah saat kondisi tubuh tidak merespons secara alami justru bisa memperburuk keadaan. Jika korban muntah secara alami, posisikan tubuh tegak dan tundukkan kepala agar sisa makanan tidak masuk ke saluran pernapasan atau memicu tersedak.

4. Waspadai Tanda Dehidrasi

Asupan cairan harus segera ditingkatkan jika korban mulai menunjukkan tanda dehidrasi ringan. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain bibir kering, rasa haus yang ekstrem, serta menurunnya frekuensi buang air kecil.

5. Konsumsi Obat Sesuai Rekomendasi

Penggunaan obat anti-diare atau anti-mual bisa menjadi solusi darurat untuk meredakan gejala yang mengganggu. Kendati demikian, konsultasi dengan tenaga medis atau dokter sangat disarankan sebelum obat tersebut dikonsumsi.

Penanganan medis profesional tetap menjadi prioritas utama jika kondisi korban memburuk. Segera bawa ke fasilitas kesehatan apabila diare berlangsung lebih dari 48 jam, muncul darah pada feses atau muntahan, demam di atas 38,5┬░C, atau timbul gangguan saraf seperti penglihatan kabur dan otot melemah.

Artikel terkait

Rekomendasi