Rahmi Shofia, yang populer dengan nama Mimi Campervan, memutuskan mengakhiri penjelajahan kemanusiaannya di wilayah timur Indonesia pada akhir 2024 setelah menempuh perjalanan hampir dua tahun. Dilansir dari Detik Travel, misi yang bermula dari Malang sejak akhir Desember 2022 ini bertransformasi dari sekadar perjalanan wisata menjadi aksi sosial lintas pulau.
Mimi memulai rute panjangnya menggunakan unit mobil yang dirakit secara mandiri untuk menyusuri Bali hingga mencapai pelosok Nusa Tenggara. Selama berpindah lokasi, ia konsisten menetap dalam durasi waktu yang lama guna berinteraksi langsung dengan warga setempat.
"Akhir 2022 Desember atau kurang lebih 1 Januari lah atau akhir Desember 2022. Start-nya dari Malang, jadi Malang aku masuk ke Bali. Bali sebulanan lebih lah," ungkap Mimi kepada detikTravel beberapa hari lalu.
Awal perjalanan ini sempat diwarnai dengan perasaan batin yang belum tuntas meski telah mengunjungi berbagai destinasi indah. Mimi mengaku sempat merasakan kekosongan tujuan sebelum akhirnya terlibat dalam berbagai kegiatan pendakian dan pembangunan infrastruktur desa.
"Ternyata masih ada yang kosong gitu. Masih ada rasa kayaknya bukan ini sih yang gue cari gitu," katanya.
Titik balik misi ini menguat saat Mimi melakukan aksi pembersihan lingkungan di wilayah Nusa Tenggara Barat. Selain mengumpulkan sampah di area pegunungan, ia juga menginisiasi pembangunan sarana ibadah di daerah Bima.
"Ke Lombok malah saya naik Gunung Rinjani bawa ngumpulin sampah. Sampai 10 karung saya bawa turun sampah, terus ternyata ada rasa kepuasan di sana," jelasnya.
Aksi sosial Mimi kemudian berkembang pada perbaikan fasilitas umum lainnya di berbagai titik singgah. Kehadirannya memberikan dampak nyata bagi penyediaan air bersih dan infrastruktur dasar warga desa.
"Di Bima saya niatnya cuma singgah ke tempat kenalan baru, ternyata di sana musholanya belum ada. Musholanya cuma ada tiang doang, seng pun belum ada cuma pasir doang," ia melanjutkan.
Pembangunan fasilitas terus berlanjut mulai dari pengerjaan lahan pengairan hingga penyediaan toilet umum bagi masyarakat. Mimi merasa aktivitas berbagi ini menjadi jawaban atas pencarian makna hidupnya selama di perjalanan.
"Ternyata saya menemukan rasa kayaknya kekosongan tadi tuh mulai terisi satu per satu. Saya sadar karena ternyata mungkin ketika saya bermanfaat buat orang lain, menghubungkan saya dengan orang-orang yang membutuhkan," ucapnya.
Di Pulau Sumba, Mimi turut melakukan rehabilitasi hunian bagi warga lanjut usia yang tinggal sebatang kara. Mobil campervan yang dikendarainya juga difungsikan sebagai gudang logistik untuk menyalurkan titipan barang dari para donatur di media sosial.
"Di mobil saya bawa tanki air, bawa mukena, bawa Al-Quran dititipin followers. Bahkan gak cuma itu, saya Islam, saya juga bawa Alkitab karena teman-teman titipkan ke saya," kata Mimi.
Jangkauan perjalanan ini terus meluas hingga melewati perbatasan negara di Timor Leste dan berlanjut ke wilayah Maluku. Mimi bahkan sempat meninggalkan kendaraannya demi mencapai pulau-pulau terpencil menggunakan moda transportasi lain.
"Masuk Sumba, masuk ke Kupang, Kupang sampe ke Timur Leste. Bahkan sempet, bahkan sempet meninggalkan mobil lagi (karena akses) adi aku tinggalin aja. Aku mulai bersepeda ke Maluku Barat Daya sampe Saumlaki, Kei, Bandar Neira, Maluku," tuturnya.
Langkah Mimi untuk berhenti sejenak dipicu oleh pengalaman emosional saat ia mencoba membantu warga yang mengalami kondisi medis darurat di Alor. Peristiwa kematian seorang warga yang ia bantu di tengah malam memberikan refleksi mendalam mengenai kefanaan hidup.
"Waktu itu tengah malam saya tidur kan jam 01.30 WIT, saya diketok 'bisa anterin ke puskesmas gak? ini bapak saya sakit' katanya kan. Terus sampai puskesmas nggak mau turun, ternyata sesak nafas dan serangan jantung mungkin ya.," Mimi menceritakan peristiwa itu.
Tragedi tersebut menjadi alasan kuat bagi Mimi untuk menutup episode pertama penjelajahannya. Ia memilih untuk kembali dan memproses seluruh pengalaman yang telah didapatkannya selama dua tahun terakhir.
"Saya ngerasa hidup tuh cuman gini doang loh, nggak ada yang bisa dibawa, terus saya rasa oke 'kayaknya cukup kematian yang mengingatkan saya untuk berhenti dulu'," katanya seraya merefleksikan diri.