Rahasia Kelam Kampung Pengoplos Elpiji di Cileungsi

Rahasia Kelam Kampung Pengoplos Elpiji di Cileungsi
Foto: Ilustrasi Rahasia Kelam Kampung Pengoplos Elpiji di Cileungsi.

Praktik penyalahgunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram kian meresahkan. Berdasarkan data Bareskrim Polri, kerugian negara setahun terakhir akibat praktik curang ini diperkirakan mencapai Rp749,29 miliar. Modus yang digunakan para pelaku memindahkan isi gas dari tabung melon 3 kg bersubsidi yang seharusnya menjadi hak kaum papa, ke tabung non-subsidi ukuran 5,5 kg, 12 kg, atau 50 kg untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang fantastis.

Program ÔÇ£Dipo InvestigasiÔÇØ Kompas TV melakukan penelusuran mendalam praktik kejahatan di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelusuran ini mengungkap fakta mengejutkan tentang keberadaan "Kampung Pengoplos Elpiji" yang diduga beroperasi secara masif dan terorganisir.

Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, mengungkapkan betapa sulitnya menembus sindikat ÔÇ£Kampung Pengoplos ElpijiÔÇØ ini. Menurutnya, para pelaku memiliki sistem peringatan dini yang canggih, mulai dari informan yang siaga berjaga menggunakan handy talky (HT) hingga mengandalkan gonggongan anjing untuk mendeteksi kedatangan orang asing.

"Hampir 80 persen warga di kampung tersebut, khususnya di Desa Dayeuh, disinyalir terlibat dalam praktik pengoplosan ini" ujar Kompol Edison, Kapolsek Cileungsi.

Kapolsek Cileungsi mengaku telah memetakan pergerakan sindikat pengoplos sejak setahun terakhir. Kompol Edison menuturkan awal masuk ke wilayah ÔÇ£kampung pengoplosÔÇØ, ia harus menyamar sebagai petugas PLN, ojek online, hingga kurir paket. Penyamaran dilakukan untuk memetakan lokasi yang kerap berpindah tempat dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Hasil penyamaran dalam setahun terakhir, Polsek Cileungsi telah 11 kali melakukan penggerebekan aktivitas pengoplosan elpiji di Kecamatan Cileungsi.

Kesaksian Sang 'Dokter' Penyuntik

Dalam patroli yang dilakukan Polsek Cileungsi pada Kamis (16/4), tim berhasil menemui salah satu terduga pelaku yang kerap dijuluki sebagai "dokter" atau penyuntik gas. Dengan tangan yang kasar dan mengeras akibat sering mengangkat tabung berkarat, ia menceritakan motifnya bergabung dalam sindikat ini.

"Katanya saya dijanjikan, daripada kau kerja yang tidak menentu, ini ada kerjaan katanya. Tahunya kerjanya begini (mengoplos). Sebelumnya hanya kerja serabutan" ujar salah satu pengoplos, Pekerja Lapangan.

Ia mengaku pendapatannya dihitung dari banyaknya tabung yang ia oplos.

"Kita diupahnya per tabung per hari kalau lagi ramai bisa dapat sampai Rp 1 juta" tutur salah satu pengoplos, Pekerja Lapangan.

Secara teknis, proses pemindahan gas dilakukan sangat cepat menggunakan es batu untuk mendinginkan tabung agar tekanan gas berpindah. Salah seorang terduga pelaku yang bertugas menjadi sopir mengaku menjalankan sistem "jemput bola" dan melakukan transaksi di pinggir jalan untuk memutus jejak.

"Saya jemput bola, Pak. Ngoper di mobil. Saya tidak tahu (asalnya) dari mana, tidak pernah ada pembahasan. Ketemu sama mobil gitu aja di jalan" ucap salah seorang sopir, Kurir Gas Oplosan.

Ia juga mengaku dalam satu hari mampu mengangkut sedikitnya 50 tabung gas ukuran 12 kg.

"Kadang dibilang si Bosnya si ini, Bosnya si itu, tapi saya tidak tahu, Pak. Kenal orangnya tidak" kata salah seorang sopir, Kurir Gas Oplosan.

Siasat Licik di Tengah Permukiman

Penelusuran di lapangan mengungkap sindikat ini sangat rapi dalam menyamarkan lokasi operasinya. Alih-alih menggunakan gudang besar, para pelaku memilih menyewa rumah kontrakan di tengah permukiman padat penduduk dengan jemuran pakaian sebagai pengecoh. Di dalamnya, ditemukan lubang atau tangga khusus yang terhubung langsung ke lahan kosong sebagai jalur pelarian.

"Selalu ada tangga dan lubang untuk akses kabur para pelaku. Jadi begitu ada sidak, mereka langsung lari ke belakang lewat sini" kata Kompol Edison, Kapolsek Cileungsi.

Praktik ini merugikan konsumen secara nyata. Dalam pengujian timbang, tabung 12 kg hasil oplosan ternyata hanya berbobot 25 kg, yang berarti konsumen dirugikan sekitar 2 kilogram per tabung. Selain itu, proses ilegal ini sangat berisiko memicu ledakan.

"Sudah menjadi rahasia umum. Sudah lama praktik seperti ini di sini, maraknya sejak habis COVID" ujar salah seorang warga, Penduduk Setempat.

Mengejar Para Cukong

Meskipun banyak pelaku lapangan telah ditangkap, polisi mengakui tantangan terbesar adalah memutus rantai hingga ke pemodal. Kompol Edison menjelaskan bahwa para pelaku yang tertangkap seringkali hanya pekerja.

"Para pekerja ini ada yang memberi modal, memberikan fasilitas tempat, dan nanti hasilnya dijemput. Kami terus menginventarisir bos-bos besar, dan beberapa sudah ditangkap oleh Mabes Polri" tutur Kompol Edison, Kapolsek Cileungsi.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyayangkan maraknya praktik ini di tengah upaya pemerintah menjaga stok energi nasional. Disparitas harga yang tinggi menjadi celah utama yang dimanfaatkan oknum.

"Dalam kondisi normal saja ini berbahaya, apalagi dengan konteks geopolitik sekarang di mana pemerintah sedang berjuang memperkuat stok BBM dan elpiji kita. Praktik seperti ini mengurangi stok di pasaran dan memicu kelangkaan bagi mereka yang berhak" ujar Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian ESDM.

Pemerintah kini tengah menggodok skema baru distribusi berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sementara itu, Pertamina juga mulai mengambil tindakan tegas terhadap pangkalan yang nakal.

ÔÇ£Selama tahun 2025 kemarin ada tujuh pangkalan yang sudah kita PHU (Pemutusan Hubungan Usaha) ya dan juga di tahun 2026 ada tiga pangkalan yang sudah kita PHUÔÇØ ucap Fredy Anwar, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat.

Artikel terkait

Rekomendasi