Para ilmuwan mengidentifikasi petunjuk rahasia panjang umur melalui analisis profil darah unik pada kelompok centenarian dan supercentenarian yang dilaporkan pada Senin (20/4/2026). Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada biomarker darah individu yang mencapai usia 100 hingga 110 tahun dibandingkan masyarakat umum.
Sejumlah riset mengindikasikan bahwa tanda-tanda biologis yang menguntungkan tersebut sudah mulai terbentuk sejak seseorang memasuki usia 65 tahun. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, biomarker ini diduga memberikan perlindungan alami terhadap berbagai penyakit kronis dan proses penuaan dini.
Awal tahun 2026, tim peneliti di Spanyol melakukan pembedahan fisiologis dan genetik terhadap Maria Branyas, salah satu orang tertua di dunia yang wafat pada usia 117 tahun. Data medis menunjukkan Branyas memiliki kadar kolesterol jahat yang sangat rendah serta indikator sistem imun yang sangat prima.
Meskipun memiliki telomer atau ujung kromosom yang pendek, para ahli menilai hal tersebut justru memberikan proteksi terhadap pertumbuhan sel kanker pada usia sangat lanjut. Fenomena ini mematahkan asumsi bahwa usia tua selalu beriringan dengan penurunan kondisi kesehatan secara drastis.
"Gambaran yang muncul dari penelitian kami, meskipun hanya berasal dari satu individu luar biasa ini, menunjukkan bahwa usia yang sangat lanjut dan kesehatan yang buruk tidak terkait secara intrinsik," tulis tim peneliti yang dipimpin Eloy Santos-Pujol dan Aleix Noguera-Castells.
Laporan riset lain dari China yang terbit pada Juli 2025 memperkuat temuan ini setelah menganalisis 65 centenarian di satu wilayah tertentu. Kelompok usia panjang tersebut terbukti memiliki kadar asam lemak dan metabolit penting yang jauh lebih rendah daripada kelompok usia yang lebih muda.
"Profil metabolisme plasma para centenarian dan nonagenarian berbeda secara signifikan dari dua populasi yang lebih muda," tulis para peneliti, dikutip dari ScienceAlert.
Perbedaan profil metabolisme ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi 'jam umur panjang' untuk memprediksi harapan hidup di masa depan. Selain faktor biologis, pola makan Mediterania yang dijalani Maria Branyas juga disoroti karena menjaga mikrobioma ususnya tetap awet muda.
Studi berskala besar pada November 2024 terhadap 5.000 partisipan lintas usia turut mengonfirmasi adanya metabolit unik yang berkaitan erat dengan asupan nutrisi. Meskipun genetika memegang peranan, para ilmuwan menekankan bahwa intervensi gaya hidup dan lingkungan tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan kualitas penuaan seseorang.