Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Muhammad Qodari, mendorong instansinya untuk menerapkan pola komunikasi yang proaktif dan agresif dalam menyosialisasikan kebijakan pemerintah. Penekanan tersebut disampaikan dalam acara serah terima jabatan di Kantor Bakom RI, Jakarta, pada Selasa, 27 April 2026.
Pergeseran pola penyampaian informasi dari media massa resmi ke media sosial menjadi alasan utama perlunya perubahan strategi komunikasi tersebut. Dilansir dari Nasional, Qodari menilai akses informasi saat ini sangat mudah dijangkau oleh masyarakat luas melalui perangkat digital.
"Kita ini sekarang hidup di era yang sangat berbeda dengan 10-20 tahun yang lalu ya. Komunikasi di era sekarang ini bukan komunikasi seperti 10-20 tahun yang lalu di mana informasi-informasi, apalagi informasi pembangunan semuanya lewat media massa resmi. Sekarang juga ada yang namanya medsos. Yang namanya berita dan informasi itu hanya sejarak jempol saja," kata Qodari, dalam acara serah terima jabat di Kantor Bakom RI, Jakarta, Selasa (27/4/2026).
Bakom RI dituntut untuk tidak pasif mengingat arus informasi terus mengalir tanpa henti ke tengah publik. Qodari menjelaskan bahwa keseimbangan informasi dan pemberian pandangan dari sisi pemerintah sangat krusial di masa sekarang.
"Memang ya kita harus aktif berkomunikasi karena informasi itu kalau kita diam, dia akan terus datang kepada kita. Jadi kita harus melakukan perimbangan, memberikan perspektif dan pandangan-pandangan," ucap Qodari.
Eksistensi media sosial menciptakan tantangan baru berupa adu narasi yang kerap terjadi di berbagai platform digital. Hal ini menuntut ketersediaan informasi yang akurat untuk menandingi berbagai klaim yang beredar bebas.
"Sampai titik tertentu saya sering bilang di podcast, ya sekarang ini mungkin era di mana your words against my words, gitu loh," sambung Qodari.
Strategi komunikasi yang agresif dinilai sangat diperlukan karena banyaknya program kerja Presiden Prabowo Subianto yang membawa paradigma baru. Intensitas penjelasan kepada publik harus ditingkatkan agar masyarakat memahami arah kebijakan pemerintah.
"Ke depan saya berharap Bakom dapat lebih proaktif. Kalau bahasa aslinya, agresif dalam mengomunikasikan kebijakan pemerintah," ucap Qodari.
Penjelasan yang intensif menjadi kunci keberhasilan sosialisasi program kerja yang bersifat inovatif dan masif. Qodari menegaskan bahwa tanpa komunikasi yang kuat, paradigma baru tersebut sulit tersampaikan secara efektif.
"Kenapa harus agresif? Karena memang program Bapak ini banyak banget ya dan baru-baru, dan seperti saya bilang paradigmanya ini paradigma baru juga, jadi harus dijelaskan secara sangat-sangat intensif," ujar Qodari.
Di sisi lain, Qodari juga mengapresiasi kinerja Angga Raka Prabowo yang telah menginisiasi penguatan struktur komunikasi pemerintah selama menjabat. Langkah strategis seperti konsolidasi kanal komunikasi dan pengelolaan isu berbasis data dianggap sebagai fondasi yang kuat.
"Bahasa operasionalnya, makasih Pak Angga ya sudah melakukan transisi dari PCO (Presidential Communication Office) ke Bakom, sudah membangun organisasi, sudah merekrut personalia, dan yang terpenting telah menyiapkan anggaran yang memadai. Terima kasih buat Pak Angga," tutur Qodari.