Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa (19/5) guna melangsungkan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Langkah tersebut diambil demi menegaskan kekokohan hubungan strategis kedua negara pascakunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok.
Kunjungan ini diumumkan beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat menutup lawatannya pada Jumat lalu, yang bertujuan menstabilkan hubungan bilateral kedua negara. Dilansir dari Media Indonesia, Kremlin menyatakan bahwa kedua pemimpin akan membahas penguatan kemitraan strategis serta bertukar pandangan mengenai isu internasional dan regional utama.
Kedekatan Moskow dan Beijing terus meningkat sejak invasi ke Ukraina pada 2022, di mana Tiongkok menjadi pembeli utama minyak Rusia yang terkena sanksi Barat. Dalam pesan video kepada rakyat Tiongkok, Putin memuji capaian hubungan bilateral tersebut.
"Hubungan hubungan kedua negara telah mencapai ÔÇ£tingkat yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnyaÔÇØ." kata Putin, Presiden Rusia.
Hubungan erat ini dinilai memberikan dampak besar bagi stabilitas global. Kedua negara juga menegaskan pencarian perdamaian tanpa membentuk aliansi yang menyasar pihak tertentu.
"Hubungan strategis yang erat antara Rusia dan Tiongkok memainkan peran besar dan menstabilkan secara global. Tanpa beraliansi melawan siapa pun, kami mencari perdamaian dan kemakmuran universal," kata Putin, Presiden Rusia.
Sebelum pertemuan bilateral itu dimulai, kedua kepala negara saling bertukar surat ucapan selamat guna memperingati 30 tahun kemitraan strategis Rusia-Tiongkok. Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa kerja sama kedua belah pihak diakui terus diperdalam.
"terus diperdeep dan diperkuat" kata Xi, Presiden Tiongkok.
Pemberian istilah khusus juga sempat mengemuka dalam sejarah pertemuan kedua pemimpin ini. Saat kunjungan terakhir Putin ke Beijing pada September 2025, kehangatan hubungan tersebut kembali terlihat jelas.
"teman lama" kata Xi, Presiden Tiongkok.
Analis dari Brookings Institution, Patricia Kim, memberikan pandangan mengenai dinamika hubungan politik antara pemimpin Tiongkok dan Rusia tersebut. Menurutnya, kebersamaan politik kedua pemimpin tidak memerlukan simbolisme yang berlebihan.
"Hubungan Xi-Putin tidak memerlukan jaminan performatif semacam itu," kata Patricia Kim, Analis Brookings Institution.
Hubungan antara Rusia dan Tiongkok dinilai lebih kuat secara struktural dibandingkan dengan hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Patricia Kim melihat adanya stabilitas yang lebih tinggi di antara kedua negara tersebut.
"secara struktural lebih kuat dan stabil" kata Patricia Kim, Analis Brookings Institution.
Selain membahas masalah geopolitik global dan konflik di Ukraina, sektor energi menjadi salah satu fokus utama dalam agenda pembicaraan kali ini. Moskow mengkhawatirkan potensi berkurangnya ketergantungan Tiongkok terhadap minyak Rusia menyusul kesepakatan Beijing untuk membeli minyak Amerika Serikat.
Analis Asia Society, Lyle Morris, menilai bahwa Presiden Rusia berupaya keras untuk memastikan komitmen ekonomi dari pihak Beijing tidak mengalami perubahan. Kekhawatiran kehilangan dukungan ekonomi menjadi dorongan utama.
"Putin tidak ingin kehilangan dukungan itu," kata Lyle Morris, Analis Asia Society.
Sektor energi yang tak terpenuhi dianggap mendorong Tiongkok mencari pasokan dari berbagai negara, termasuk dari wilayah Amerika Serikat.
"tak terekspresikan" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di samping itu, situasi di Timur Tengah dan dampaknya terhadap Selat Hormuz turut menjadi perhatian penting karena memengaruhi jalur perdagangan dunia dan pasokan energi global. Pengamat dari Nanyang Technological University Singapura, James Char, menilai Tiongkok sangat berkepentingan menjaga stabilitas jalur tersebut demi aktivitas ekonominya.
Sementara itu, Rusia diuntungkan secara ekonomi dari kenaikan harga energi akibat konflik Iran dan pelonggaran sanksi. Setelah pembicaraan pada April lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan kesiapan negaranya untuk mengompensasi pasokan energi Tiongkok jika terjadi gangguan global. Kedua pemimpin dijadwalkan menandatangani deklarasi bersama setelah pertemuan bilateral selesai.