PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) merencanakan pengembangan infrastruktur luar angkasa baru berupa satelit penginderaan optik yang ditargetkan meluncur pada 2028. Rencana strategis ini diumumkan di Jakarta pada Senin (11/5/2026) malam sebagai bagian dari upaya penguatan posisi perusahaan melalui teknologi buatan mandiri.
Dilansir dari Teknologi, proyek awal satelit tersebut saat ini telah mencapai tahapan model rekayasa (engineering model). Pengembangan ini dilakukan secara bertahap sebelum memasuki fase desain teknis yang lebih mendalam untuk memastikan fungsionalitas perangkat di orbit.
Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso memberikan penjelasan mengenai rincian linimasa pengembangan proyek satelit penginderaan optik tersebut dalam waktu dekat.
ÔÇ£Kami akan masuk ke preliminary design review. Kami harapkan selesai kuartal ketiga tahun ini. Critical design review-nya mungkin pada akhir tahun ini dan kemudian testing dan segala macam. Kami harapkan kami bisa luncurkan akhir tahun depan atau awal 2028,ÔÇØ kata Adi, Direktur Utama PSN.
Pemanfaatan satelit ini dirancang untuk kebutuhan penginderaan multispektral yang mencakup mitigasi bencana, pertahanan, hingga ketahanan pangan. PSN juga menjajaki potensi kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) demi mengonversi hasil riset menjadi implementasi industri nyata.
Adi menekankan bahwa sektor penginderaan jarak jauh di Indonesia masih memiliki ceruk pasar yang luas karena minimnya kompetisi di industri tersebut.
ÔÇ£Internet of things ya. Karena orang perlu mulai melihat kebutuhan mereka untuk melihat semua keadaannya secara digital. Apakah itu listrik, apakah itu air, apakah itu kehutanan atau perkebunan,ÔÇØ tutur Adi, Direktur Utama PSN.
Peningkatan kebutuhan transmisi data untuk pengawasan sumber daya alam diprediksi akan melonjak signifikan. Salah satu contoh nyata adalah pemantauan lahan gambut secara berkelanjutan yang memerlukan dukungan data satelit yang stabil dan akurat.
Sebelum pengumuman proyek ini, PSN telah meresmikan pengoperasian Satelit Nusantara Lima sejak 11 September 2025. Satelit tersebut memberikan cakupan layanan luas hingga ke wilayah Malaysia dan Filipina dengan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS).
Kapasitas bandwidth yang dihasilkan mencapai lebih dari 160 Gbps melalui mekanisme spot beam. Hal ini menjadikan Nusantara Lima sebagai salah satu satelit dengan kapasitas terbesar di Asia Tenggara untuk penyediaan layanan akses pita lebar.
Dalam satu dekade terakhir, PSN Group tercatat telah mengelola tiga program satelit geostasioner yang meliputi Nusantara Satu, SATRIA-1 (Nusantara Tiga), dan Nusantara Lima. Total investasi yang dikucurkan untuk ketiga program tersebut mencapai angka lebih dari Rp23 triliun.