PSI Sentil Guntur Romli: Komentar Miring Usai Jokowi Cabut Kenikmatan PDIP di 2026

PSI Sentil Guntur Romli: Komentar Miring Usai Jokowi Cabut Kenikmatan PDIP di 2026
Foto: PSI Sentil Guntur Romli: Komentar Miring Usai Jokowi Cabut Kenikmatan PDIP di 2026. (Illustration by Pexels)

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, melontarkan kritik pedas terhadap politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli. Hal ini merespons pernyataan negatif Guntur terkait rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang akan melakukan perjalanan keliling Indonesia.

Bestari menyatakan keheranannya atas sikap jajaran PDIP yang dinilai selalu memberikan komentar miring terhadap aktivitas Jokowi. Ia menilai kekhawatiran yang ditunjukkan pihak PDIP merupakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Menurut Bestari, Jokowi adalah sosok pemimpin yang selama menjabat sangat gemar melakukan kegiatan blusukan ke berbagai daerah. Hal inilah yang memicu kerinduan mendalam dari lapisan masyarakat yang pernah merasakan langsung manfaat kebijakan beliau.

Bestari menambahkan bahwa kunjungan tersebut merupakan ajang pelepas rindu antara rakyat dengan mantan pemimpinnya. Ia menyayangkan pernyataan Guntur Romli yang dianggap tidak melihat niat Jokowi secara utuh dan menyeluruh.

Faktor yang melatarbelakangi sikap PDIP menurut PSI:

  • Perasaan tidak nyaman setelah kehilangan pengaruh politik dari sosok Jokowi.
  • Adanya perubahan sikap partai sejak Jokowi tidak lagi memberikan keuntungan bagi kepentingan internal mereka.
  • Kekhawatiran akan perpindahan basis suara pendukung loyal Jokowi ke partai lain.
  • Upaya pengurus partai untuk menarik perhatian internal melalui pernyataan yang kontroversial.

Bestari menduga sikap sinis PDIP muncul sejak Jokowi mencabut berbagai keuntungan politik yang sebelumnya dinikmati partai tersebut. Ia menganggap wajar jika muncul kegelisahan di internal partai berlambang banteng itu setelah ditinggalkan Jokowi.

Lebih lanjut, PSI justru merasa gembira karena Jokowi kini tidak lagi menjadi bagian dari partai lamanya. Bestari berharap momentum kunjungan keliling Indonesia ini dimanfaatkan Jokowi untuk menegaskan keberpihakannya pada PSI.

Ia meyakini bahwa pengumuman resmi tersebut akan membawa dampak besar bagi peta suara nasional. Bestari optimis pemilih senyap atau silent voters yang mencintai Jokowi akan mengalihkan dukungan mereka secara otomatis ke PSI.

Perbandingan argumen antara PSI dan PDIP:

Aspek Penilaian Perspektif PSI (Bestari Barus) Perspektif PDIP (Guntur Romli)
Dampak Politik Jokowi Sangat besar karena dicintai rakyat dan punya basis massa kuat. Dianggap kecil karena gagal meloloskan PSI saat masih menjabat presiden.
Tujuan Keliling Indonesia Menyapa rakyat dan mengobati kerinduan masyarakat daerah. Dipandang skeptis dan tidak akan membawa pengaruh signifikan.
Status di Internal Partai Berharap Jokowi secara terbuka menyatakan bersama PSI. Menilai Jokowi tidak lagi memiliki kekuatan setelah purnatugas.

Tabel di atas merangkum perbedaan pandangan yang tajam antara kedua kubu mengenai posisi tawar Jokowi saat ini. Perselisihan ini mencuat setelah Guntur Romli meragukan kapasitas Jokowi dalam memengaruhi perolehan suara partai.

Bestari juga menyarankan agar Guntur Romli lebih fokus mengurusi urusan internal partainya sendiri daripada mencampuri partai lain. Ia bahkan mempertanyakan kapasitas dan posisi resmi Guntur di struktur kepengurusan PDIP saat ini.

Menurutnya, pernyataan yang dikeluarkan Guntur tidak memiliki bobot dan tidak memberikan kontribusi positif bagi pembangunan partainya. Ia menganggap narasi yang dibangun tersebut justru memperlihatkan ketidakprofesionalan dalam berpolitik.

Sebelumnya, Guntur Romli meyakini bahwa posisi Jokowi saat ini tidak akan memberikan dampak politik yang berarti. Ia merujuk pada kegagalan PSI menembus parlemen pada pemilu lalu, meski saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Presiden aktif.

Guntur menggunakan logika sederhana bahwa kekuatan Jokowi saat masih berkuasa saja tidak cukup memenangkan PSI. Karena itu, ia meragukan pengaruh Jokowi akan lebih kuat sekarang ketika sudah tidak memegang jabatan apa pun.

Artikel terkait

Rekomendasi