Permukiman warga di RT 03 RW 06 Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat, terendam luapan air kali selama lebih dari satu bulan akibat pembangunan pintu air pada Rabu (6/5/2026). Genangan air berwarna hitam dan berbau busuk tersebut dilaporkan memicu gangguan kesehatan bagi lansia dan anak-anak di wilayah terdampak, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Kondisi lingkungan yang memburuk disebabkan oleh pembendungan aliran kali untuk pengerjaan proyek di sisi Jalan Outer Ring Road. Syarif, seorang warga lansia berusia 68 tahun yang bermukim di Gang Murai III, mengungkapkan dampak langsung yang ia rasakan pada saluran pernapasannya.
"Terganggu lah, bau penyakit. Air ini emang bau, bawa penyakit. Batuk, saya batuk melulu nih sebulan," ujar Syarif saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu (6/5/2026).
Genangan setinggi 30 hingga 40 sentimeter tersebut juga mengubah lahan kering di sekitar rumahnya menjadi serupa danau yang dipenuhi sampah. Syarif menambahkan bahwa dirinya sempat terjatuh akibat kondisi jalan yang menjadi licin setelah terendam air kotor tersebut.
"Ini kepeleset nih, jatoh ya. Namanya banjir ini, kotor kan, licin," ujar dia.
Warga berharap otoritas terkait segera melakukan pembersihan dan normalisasi agar kondisi lingkungan kembali seperti semula. Syarif menegaskan pentingnya penanganan cepat agar tumpukan sampah dan bau tidak terus menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar.
"Pengin enak aja gitu, balik ke yang biasa-biasanya lagi. Jangan bau, jangan banyak sampah biar enggak jadi penyakit," ujar dia.
Persoalan kesehatan anak-anak juga menjadi sorotan utama bagi warga lain di kawasan tersebut. Lia, seorang ibu berusia 41 tahun, menjelaskan bahwa keberadaan bayi stunting dan warga yang sakit di area tersebut memperburuk risiko kesehatan akibat genangan yang tidak higienis.
"Sedangkan di warga sekitar ada bayi stunting, ada orang sakit ya kan, ada lansia. Ini udah enggak akan sehat gitu loh. Jangankan untuk anak yang udah sakit, orang sehat pun bisa sakit," keluh Lia.
Dampak banjir ini juga menyebabkan kerusakan materiil, termasuk pada peralatan medis milik anak Lia yang mengidap autoimun. Meskipun mengalami kerugian finansial, ia menyatakan tidak menuntut ganti rugi uang namun meminta empati dari pelaksana proyek.
"Ya kalau itu (ganti rugi) sih memang kita kalau memang mereka punya hati, tanpa harus diminta itu mereka harus sudah memikirkan gitu loh. Ini kan bukan satu dua hari, tapi namanya ini proyek pemerintah kan saya enggak enak juga kalau bicara uang, yang penting kepeduliannya dulu saja untuk melihat langsung warga yang terdampak," ucap Lia.
Menanggapi situasi tersebut, Mustajab selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (Kasudin SDA) Jakarta Barat memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa proyek di hilir Kali Apuran tersebut merupakan bagian dari pembangunan Polder Pedongkelan untuk sistem penanggulangan banjir.
"Itu adalah proyek pembangunan pintu air, bagian dari proyek Polder Pedongkelan, di hilir Kali Apuran, sehingga air dari Saluran Penghubung (Phb) Sumur Bor dialirkan ke Kali Mookervart. Yang mengerjakan oleh Dinas SDA," jelas Mustajab saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat, Sabtu (2/5/2026) lalu.
Mustajab memaparkan bahwa metode kisdam atau pembendungan sementara diperlukan untuk menjaga area konstruksi bawah tetap kering. Sebagai kompensasi, aliran air dari hulu dialihkan menggunakan pompa berkapasitas besar untuk meminimalisir luapan ke permukiman.
"Dalam hal pelaksanaan, memang sebagian kali di-kisdam (dibendung sementara) untuk mengerjakan konstruksi bawah, sedangkan aliran yang dari hulu di-dewatering (disedot) dengan pompa 1.000 lps (liter per detik)," ucapnya.
Pihak Sudin SDA mengklaim saat ini sedang melakukan koordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk mengatasi efek samping proyek yang dikeluhkan warga. Mustajab memastikan langkah-langkah tindak lanjut sedang diproses guna meredam dampak genangan.
"Menanggapi keluhan masyarakat, saat ini kami tengah berkoordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)," tutur Mustajab.
Di lokasi kejadian, satu unit mobil pompa telah dikerahkan untuk mempercepat pembuangan air dari bendungan sementara. Namun, Ketua RW 06 Cengkareng Barat, Suroto, menilai operasional pompa tersebut belum berjalan optimal karena kendala durasi penggunaan bahan bakar.
"Sebenarnya sudah seminggu ini sudah dilakukan (pompa) dengan baik. Tapi ya dia boros solar kan, paling nyala dua jam terus istirahat dulu, enggak terus-terusan, jadi memang belum bisa maksimal juga," jelas Suroto.