Relawan Projo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terlibat persaingan klaim mengenai keterlibatan mereka dalam rencana safari politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, untuk berkeliling Indonesia pada Juni 2026 mendatang. Kedua pihak menyatakan tengah mempersiapkan agenda tersebut guna menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Perselisihan ini bermula saat Projo menyatakan kondisi kesehatan Joko Widodo telah pulih hampir sepenuhnya dan siap melakukan perjalanan dinas di berbagai wilayah Indonesia. Namun, pernyataan tersebut segera dibantah oleh pihak PSI yang menegaskan bahwa partai mereka merupakan inisiator resmi di balik rencana tersebut, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Juru bicara PSI, Bestari, mempertanyakan validitas pernyataan Projo sekaligus menyindir posisi organisasi relawan tersebut yang dianggap pernah menyatakan ketidaksetiaan terhadap Joko Widodo di masa lalu.
"Kita yang menyiapkan. Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? Projo kan bukannya bukan Pro Jokowi? Bukan Pro Jokowi, pada waktu itu pernah ngomong. Jadi agak membingungkan lu menanyai saya ini Projo, Projo mana? Yang sudah enggak Pro Jokowi lagi?" ujar Bestari, Politisi PSI.
Di sisi lain, pengamat politik menyoroti fenomena perebutan pengaruh ini di tengah catatan performa partai yang terafiliasi dengan tokoh asal Solo tersebut. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa narasi tentang kekuatan politik tokoh tertentu tidak selaras dengan fakta perolehan suara pada pemilihan legislatif sebelumnya.
"Membaca jejak pengaruh Jokowi di Pemilu 2024, dan dalam catatan survei yang IPO lakukan, Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas Parpol," kata Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif IPO.
Dedi menggarisbawahi bahwa posisi elektabilitas PSI nyatanya masih berada di bawah Partai Perindo serta sejajar dengan partai-partai baru lainnya. Penegasan ini didasari pada analisis hasil pemilu yang menunjukkan bahwa kemenangan pihak tertentu tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh sosok mantan presiden tersebut.
"Memang Prabowo berhasil menang di Pilpres. Tetapi catatannya bukan didominasi faktor Jokowi," ungkap Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif IPO.
Menurut analisis IPO, upaya untuk terus mengeklaim kedekatan dengan tokoh populer justru dapat memperkecil dampak pengaruh politik yang sebenarnya di mata publik. Dedi menilai Projo akan terus berusaha melekat dengan citra Joko Widodo karena eksistensi organisasi tersebut memang berakar dari sana.
"Klaim Projo bahwa mereka bukan Pro Jokowi tidak masuk akal," ujar Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif IPO.