Yayasan Ginjal Nasional Singapura melansir data yang memperkirakan lebih dari 200 ribu warga didiagnosis mengidap penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius terkait potensi lonjakan kebutuhan fasilitas cuci darah dan pasien gagal ginjal di masa depan.
Dikutip dari Detik Health, pemerintah Singapura kini mengerahkan sekitar 1.100 klinik Healthier SG di luar sistem kesehatan publik untuk melakukan pemantauan ketat. Langkah ini bertujuan menangani pasien CKD sejak fase awal agar kondisi kesehatan mereka tidak memburuk menjadi gagal ginjal total.
Data terbaru dari Survei Kesehatan Penduduk Nasional (NPHS) yang dirilis Kementerian Kesehatan Singapura pada Oktober 2025 menunjukkan adanya kenaikan prevalensi yang tajam. Pada periode 2023-2024, prevalensi CKD di kalangan warga usia 18 hingga 74 tahun tercatat mencapai 13,9 persen.
Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan jika dibandingkan dengan periode 2019-2020 yang hanya berada di level 8,7 persen. Temuan data tersebut diperoleh otoritas kesehatan melalui prosedur pemeriksaan sampel urine dan darah dari para responden survei secara menyeluruh.
Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menyoroti bahwa jumlah pasien yang membutuhkan dialisis terus merangkak naik akibat populasi lansia yang bertambah. Hal ini tetap terjadi meski prevalensi penyakit pemicu seperti diabetes dan hipertensi di masyarakat terpantau relatif stabil.
Secara medis, CKD diartikan sebagai kerusakan organ ginjal jangka panjang yang menyebabkan kemampuan penyaringan menurun secara progresif dan bersifat permanen. Sebagian besar kasus ini dipicu oleh komplikasi dari penyakit gula darah dan tekanan darah tinggi.
Direktur medis National Kidney Foundation, Dr Jason Choo, memaparkan bahwa terdapat lima tingkatan stadium dalam perkembangan penyakit ini.
"Tahap 1 berarti terdapat beberapa kerusakan ginjal, seperti adanya protein dalam urine, tetapi organ tersebut masih berfungsi," kata Dr Jason Choo.
Kondisi paling kritis berada pada stadium 5 yang dikenal sebagai gagal ginjal tahap akhir. Pada fase ini, pasien tidak memiliki pilihan lain selain menjalani prosedur cuci darah rutin atau melakukan operasi transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.
Pemerintah Singapura sebenarnya telah menginisiasi program Holistic Approach in Lowering and Tracking Chronic Kidney Disease (HALT-CKD) sejak 2017 di rumah sakit publik. Program ini kini diperluas ke sektor swasta guna memperlambat laju kerusakan ginjal pada masyarakat luas.
Hingga Februari 2026, tercatat sudah ada sekitar 1.100 klinik yang terintegrasi dalam skema tersebut. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah memberlakukan protokol khusus bagi dokter umum dalam menangani pasien ginjal sejak awal tahun 2025.
Peran Dokter Umum dalam Penanganan Dini
Dr Jonathan Yeo selaku Direktur Chinatown Family Medicine Clinic menyebutkan bahwa protokol baru sangat membantu dokter umum dalam memberikan perawatan. Skema ini memudahkan tenaga medis untuk menentukan momen yang tepat bagi pasien untuk dirujuk ke dokter spesialis.
"Yang dilakukan protokol perawatan ini adalah mengkonsolidasikan pendekatan dan prinsip-prinsip utama, memberikan dokter umum pendekatan yang seragam untuk mengelola pasien dengan CKD," ujar Dr Jonathan Yeo.
Meski secara statistik kenaikan prevalensi dianggap belum mencapai tahap ekstrem, Dr Jason Choo tetap memberikan peringatan keras. Ia mengestimasi total pengidap penyakit ginjal di Singapura saat ini telah menyentuh angka 500 ribu jiwa.
"Bahkan jika sebagian kecil, katakanlah 5 persen, dari 500.000 pasien ini akhirnya membutuhkan dialisis setelah gagal ginjal, ini akan berjumlah sekitar 25.000 pasien baru," kata Dr Jason Choo.
Angka estimasi tersebut sangat mengkhawatirkan karena jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan kapasitas 10 ribu pasien dialisis yang ada sekarang. Beban sistem kesehatan diprediksi akan meningkat tajam jika pencegahan tidak dilakukan secara masif.
Pentingnya Kesadaran Deteksi Gejala
Kementerian Kesehatan Singapura mengungkapkan bahwa mayoritas pasien dalam program HALT-CKD kini telah mendapatkan terapi obat pelindung ginjal terbaru. Pengobatan ini diklaim efektif dalam menghambat penurunan fungsi organ secara drastis bagi para pasien yang terdaftar.
Selain pemberian obat, pasien mendapatkan pengawasan ketat terhadap pola hidup, termasuk kontrol tekanan darah dan kebiasaan merokok. Data NPHS menunjukkan risiko tertinggi dialami oleh warga yang menderita diabetes dan hipertensi secara bersamaan dengan angka prevalensi 47,4 persen.
Tenaga medis profesional menekankan bahwa tantangan terbesar adalah sifat penyakit yang seringkali tidak menunjukkan gejala hingga mencapai stadium lanjut. Pasien sering baru menyadari kondisi mereka saat kerusakan sudah sulit untuk dipulihkan secara medis.
"Pada saat mereka menyadari ginjal mereka telah melemah secara signifikan, kerusakan tersebut sudah tidak dapat dipulihkan lagi," kata Dr Jonathan Yeo.
Ia juga membantah anggapan umum bahwa masalah ginjal selalu ditandai dengan munculnya rasa nyeri pada bagian punggung atau pinggang. Gejala fisik seringkali tidak muncul secara kasat mata hingga pasien berada pada ambang kegagalan organ total.
"CKD sebagian besar tidak menunjukkan gejala sampai pasien mencapai stadium akhir gagal ginjal, jadi mentalitas 'tidak ada gejala berarti saya pasti sehat' adalah keliru," ujar Dr Jonathan Yeo.