Ekonom Prediksi Inflasi April 2026 Melandai di Level 3 Persen

Ekonom Prediksi Inflasi April 2026 Melandai di Level 3 Persen
Foto: Ilustrasi Ekonom Prediksi Inflasi April 2026 Melandai di Level 3 Persen.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memproyeksikan inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 akan melandai ke kisaran 2,9 persen hingga 3,1 persen. Data resmi tersebut dijadwalkan akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (4/5/2026) pukul 11.00 WIB sebagaimana dilansir dari Money.

Penurunan tingkat inflasi secara tahunan ini dipicu oleh mulai meredanya efek musiman pasca-Lebaran serta kondisi daya beli masyarakat yang dinilai belum pulih sepenuhnya. Wijayanto juga menyoroti dampak kenaikan harga energi global yang masih tertahan karena stabilitas harga BBM dan LPG subsidi.

Angka proyeksi ini menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan realisasi Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48 persen. Sebagai informasi, porsi konsumsi BBM menyumbang sekitar 5 persen terhadap total konsumsi, sementara LPG berkontribusi sekitar 20 persen.

"Inflasi April ini secara yoy akan lebih rendah dari itu, estimasi saya di kisaran 2,9-3,1 persen," ujar Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Wijayanto menjelaskan bahwa tekanan harga secara umum tertahan oleh kebijakan harga energi domestik. Meskipun demikian, pasar tetap mewaspadai risiko pada kuartal II 2026 akibat fenomena El Nino yang berdampak pada harga pangan.

"Inflasi YoY akan menurun dibandingkan bulan Maret, karena dampak efek seasonal Lebaran mulai melandai, selain itu daya beli masyarakat masih belum kembali," kata Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Selain faktor inflasi, pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika defisit fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, serta pergerakan indeks harga saham gabungan. Fokus investor juga tertuju pada rencana peninjauan peringkat oleh S&P dan indeks MSCI.

"Ada potensi (kuartal II) besar meningkat. Faktor utama adalah inflasi pangan akibat El Nino, dan kapasitas keuangan Pertamina sudah tidak mampu lagi menahan harga LPG dan BBM," tutup Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina.

Sebelumnya, tren pelandaian inflasi tahunan sudah terlihat sejak awal tahun 2026. BPS mencatat angka inflasi pada Februari berada di level 4,76 persen sebelum kemudian menyusut pada bulan berikutnya.

"Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Artikel terkait

Rekomendasi