Prancis mengerahkan kekuatan militer maritim utamanya menuju kawasan Timur Tengah yang kian memanas. Menteri Pertahanan Prancis Alice Rufo mengumumkan bahwa kapal induk andalan mereka, Charles de Gaulle, sedang berlayar ke Laut Arab dan bersiap mendekati Selat Hormuz melalui Teluk Oman pada Sabtu (16/5/2026).
Pengerahan armada tempur bertenaga nuklir tersebut dilakukan setelah kapal berhasil melewati Terusan Suez. Langkah ini diambil sebagai bagian dari misi bersama antara Paris dan London untuk mengamankan jalur pelayaran komersial di kawasan Laut Merah, Teluk Aden, hingga Selat Hormuz, dilansir dari Investor Daily.
Kehadiran kapal induk ini ditujukan untuk memantau situasi secara langsung di lapangan dan memperkuat diplomasi regional maupun global. Rufo juga memberikan kepastian bahwa ruang operasional kapal tersebut fleksibel.
Situasi geopolitik di jalur nadi energi dunia ini berada dalam status siaga satu sejak serangan udara masif Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Meskipun sempat ada kesepakatan gencatan senjata sementara pada 7 April 2026, blokade maritim AS terhadap pelabuhan Iran tetap diperketat, yang dibalas Iran dengan penerapan aturan transit khusus yang sangat ketat di Selat Hormuz.
Langkah militer Eropa ini langsung memicu reaksi keras dari pihak Teheran. Sebelum armada tersebut tiba, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi telah merilis peringatan resmi pada 10 Mei 2026 bahwa kehadiran kapal perang asing di Selat Hormuz akan segera berhadapan dengan respons militer yang tegas dan seketika dari angkatan bersenjata Iran.
Konflik bersenjata sejak akhir Februari telah mengubah Selat Hormuz menjadi zona perang saraf yang melumpuhkan ekonomi global karena terhentinya lalu lintas kapal tanker. Selat ini merupakan jalur perairan paling strategis di dunia yang menghubungkan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar global, di mana seperlima pasokan minyak bumi dan gas alam cair dunia wajib melintasinya setiap hari.
Keterlibatan Prancis dan Inggris menandai babak baru dalam krisis energi yang merugikan negara-negara Eropa akibat blokade sepihak AS dan aturan ketat Iran. Kehadiran militer Eropa di Laut Arab dan Teluk Oman bertujuan melakukan pembagian beban keamanan maritim untuk mencegah kelangkaan energi total di Eropa sekaligus menjadi kekuatan penengah agar konflik tidak meluas menjadi perang terbuka berskala global.