Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan langkah strategis berupa pembangunan infrastruktur energi dan transformasi transportasi publik untuk menekan polusi udara di Ibu Kota. Langkah ini diambil merespons kondisi udara Jakarta yang tercatat tidak sehat pada Minggu, 4 Mei 2026 pagi.
Dilansir dari Megapolitan, kualitas udara Jakarta sempat berada di posisi terburuk dunia dengan skor indeks kualitas udara mencapai 182. Menanggapi situasi tersebut, pemerintah daerah berkomitmen mempercepat perbaikan lingkungan di berbagai sektor utama penyumbang emisi.
"Yang jelas Jakarta segera berbenah menangani persoalan polusi," ucap Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta saat ditemui di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Senin.
Salah satu strategi yang didorong adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi listrik hingga 120 megawatt ketika sudah beroperasi secara penuh di masa mendatang.
Pramono juga menyoroti dampak polusi lintas batas yang berasal dari sektor industri berbasis batu bara di luar wilayah Jakarta. Ia menilai pengurangan emisi dari kawasan penyangga seperti Suralaya akan memberikan pengaruh besar bagi kesehatan udara di Jakarta.
"Kalau itu bisa dikurangi, terutama di daerah Suralaya yang kemudian udaranya masuk ke Jakarta, itu akan secara signifikan mengurangi polusi," tutur Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Selain pembenahan sektor energi, Pemprov DKI memfokuskan peralihan total armada TransJakarta menjadi kendaraan ramah lingkungan. Target ambisius ditetapkan agar pada tahun 2030, sebanyak 10.000 unit armada bus sudah menggunakan teknologi listrik.
"Dalam program ke depan, saya menargetkan tahun 2030 Jakarta sudah betul-betul semua busnya EV bus atau bus listrik yang jumlahnya kurang lebih 10.000 unit," kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Hingga tahun 2026, jumlah bus listrik yang beroperasi di jalanan Jakarta tercatat baru menyentuh angka 460 unit. Pemerintah berencana melakukan penambahan unit secara bertahap setiap tahun untuk mencapai target dekarbonisasi transportasi publik tersebut.
Data dari laman pemantau IQAir pada Minggu pukul 06.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 100 mikrogram per meter kubik. Angka ini menempatkan Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi, melampaui beberapa kota besar lainnya di Asia dan Timur Tengah.
| Peringkat | Kota | Negara | Skor IQAir |
|---|---|---|---|
| 1 | Jakarta | Indonesia | 182 |
| 2 | Dhaka | Bangladesh | 153 |
| 3 | Lahore | Pakistan | 135 |
| 4 | Baghdad | Irak | 134 |