PBB Berduka atas Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia di Lebanon

PBB Berduka atas Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia di Lebanon
Foto: Ilustrasi PBB Berduka atas Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia di Lebanon.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan duka mendalam atas gugurnya personel TNI, Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, yang bertugas dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon. Prajurit berusia 31 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir di rumah sakit Beirut setelah sempat kritis akibat ledakan proyektil di Lebanon selatan pada 29 Maret 2026.

Kematian Praka Rico menambah daftar panjang korban dari pihak pasukan penjaga perdamaian Indonesia di tengah eskalasi konflik di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan awal penyelidikan pihak UNIFIL sebagaimana dilansir dari Kompas, proyektil yang meledak di markas Adchit Al Qusayr tersebut diduga kuat berasal dari tembakan tank Merkava milik militer Israel.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, memberikan penghormatan khusus kepada dedikasi almarhum selama menjalankan tugas. Lacroix menyampaikan pernyataan resmi melalui akun media sosialnya sebagai bentuk duka cita internasional.

"Saya sangat bersedih ketika harus menyampaikan wafatnya seorang penjaga perdamaian UNIFIL yang penuh keberanian," kata Lacroix.

Penegasan tersebut diikuti dengan ungkapan simpati mendalam bagi pihak keluarga serta institusi militer yang menaungi almarhum. Lacroix menekankan bahwa kehilangan ini dirasakan secara kolektif oleh komunitas penjaga perdamaian dunia.

"Saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, serta kepada Tentara Nasional Indonesia dan pemerintah Indonesia," sambung Lacroix.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI turut merespons peristiwa tragis ini dengan menyatakan duka cita mendalam secara resmi pada Jumat, 24 April 2026. Pemerintah memastikan bahwa pengorbanan Praka Rico mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari negara.

"Pemerintah menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan," bunyi pernyataan Kemlu RI.

Kemlu menegaskan bahwa keterlibatan personel TNI dalam misi luar negeri merupakan wujud nyata komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas global. Upaya repatriasi jenazah kini menjadi prioritas utama pemerintah melalui koordinasi intensif dengan pihak berwenang di Lebanon.

"Negara hadir untuk memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbanannya dalam menjaga perdamaian dunia," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Indonesia secara tegas mengecam aksi militer yang menargetkan personel perdamaian. Indonesia menilai insiden ini sebagai pelanggaran berat yang mencederai prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional yang berlaku secara global.

"Indonesia kembali mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya peacekeeper Indonesia," tuturnya.

Kemlu memperingatkan bahwa setiap tindakan yang membahayakan keselamatan pasukan di bawah bendera PBB memiliki konsekuensi hukum yang sangat serius. Pernyataan tersebut menekankan perlunya pertanggungjawaban atas insiden yang terjadi di zona konflik tersebut.

"Serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," sambung Kemlu.

Wafatnya Praka Rico menjadikan total empat prajurit TNI gugur dalam rangkaian serangan di Lebanon selatan sejak akhir Maret hingga awal April 2026. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon telah gugur lebih dahulu dalam serangan artileri pada 29 Maret yang juga menyebabkan Praka Rico terluka.

Insiden maut berlanjut sehari setelahnya ketika Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan kehilangan nyawa akibat serangan terhadap konvoi UNIFIL. Hingga saat ini, ketegangan di perbatasan Lebanon tetap tinggi dengan sejumlah prajurit lainnya dilaporkan masih menjalani perawatan akibat luka-luka.

Artikel terkait

Rekomendasi