Prajurit TNI Gugur Akibat Ledakan di Markas UNIFIL Lebanon

Prajurit TNI Gugur Akibat Ledakan di Markas UNIFIL Lebanon
Foto: Ilustrasi Prajurit TNI Gugur Akibat Ledakan di Markas UNIFIL Lebanon.

Seorang prajurit TNI, Praka Rico Pramudia, dinyatakan gugur setelah menjalani perawatan intensif akibat luka berat dari ledakan peluru kendali di markas UNIFIL, Adchit Al Qusayr, Lebanon, pada Rabu (29/3/2026) malam. Insiden tersebut menambah daftar panjang personil TNI yang kehilangan nyawa dalam misi perdamaian di wilayah tersebut, sebagaimana dilansir dari Nasional.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya prajurit yang sedang menjalankan tugas negara di bawah naungan PBB tersebut. Sukamta menegaskan bahwa pengabdian tersebut merupakan wujud komitmen Indonesia terhadap stabilitas keamanan internasional.

"Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi," kata Sukamta, dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).

Legislator tersebut menyoroti perlunya evaluasi terhadap mekanisme perlindungan pasukan mengingat situasi keamanan di lapangan yang terus mengalami peningkatan eskalasi. Ia mendesak agar PBB menyesuaikan mandat operasi dengan ancaman nyata yang saat ini berkembang di kawasan konflik.

"Kami mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL, agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan," ujar dia.

Sukamta juga memberikan penekanan khusus terkait dinamika konflik di kawasan yang melibatkan berbagai aktor militer. Prioritas keamanan personil internasional menurutnya tidak bisa dikesampingkan demi kelancaran misi kemanusiaan dan perdamaian.

"Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan," tegas Sukamta.

Selain tuntutan terhadap PBB, Sukamta juga meminta Pemerintah Indonesia untuk mengkaji ulang pola penugasan prajurit TNI di zona merah. Ia berharap adanya investigasi transparan untuk memberikan keadilan bagi para korban yang telah berkorban di medan tugas.

"Pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian, tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global," ujar dia.

Berdasarkan informasi resmi dari UNIFIL di platform X, Praka Rico yang berusia 31 tahun mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Beirut setelah dirawat selama hampir satu bulan. Pihak UNIFIL menyampaikan rasa duka kepada keluarga korban atas kehilangan salah satu personil terbaiknya.

ÔÇ£UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret malam,ÔÇØ kata UNIFIL, dalam pernyataannya di platform X, Jumat (24/4/2026), dikutip dari Antara.

Wafatnya Praka Rico menjadikan total empat prajurit TNI yang gugur di Lebanon selatan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sebelumnya, serangan artileri pada 29 Maret menewaskan Praka Farizal Rhomadhon, diikuti gugurnya Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan saat konvoi pasukan mereka diserang pada 30 Maret.

Artikel terkait

Rekomendasi