Gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai lebih mengedepankan pendekatan merangkul berbagai pihak guna menjamin stabilitas nasional. Strategi ini terlihat jelas melalui langkah perombakan kabinet atau reshuffle yang baru saja dilakukan.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menyebutkan bahwa Prabowo sedang menjalankan politik jalan tengah. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Nasional, pendekatan ini bertujuan untuk menyatukan berbagai kekuatan besar di Indonesia.
"Ini mazhabnya (Prabowo) mazhab stabilitas, Pak. Mazhabnya merangkul," kata Adi dalam tayangan YouTube Gaspol Kompas.com, Jumat (1/5/2026).
Keputusan untuk tetap mempertahankan sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menjadi indikator kuat arah politik ini. Adi berpendapat bahwa Prabowo menghindari adanya jarak dengan tokoh-tokoh kunci nasional.
Menurut analisisnya, karakter kepemimpinan Prabowo lebih fokus pada upaya menjaga keseimbangan kekuatan politik yang ada. Hal ini dilakukan agar roda pemerintahan dapat berjalan tanpa gangguan oposisi yang tajam.
"Yang penting presiden itu kan menjaga bandul. Semua kekuatan-kekuatan ini diajak kerja sama," lanjutnya.
Sebelum pengumuman resmi muncul, publik sempat berspekulasi bahwa reshuffle kali ini akan mengeliminasi loyalis Jokowi. Nama-nama seperti Menko PMK Pratikno hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diprediksi akan diganti.
Namun, kenyataannya tokoh-tokoh tersebut tetap berada di posisinya atau setidaknya tidak terdepak dari lingkaran kekuasaan. Adi menilai sangat sulit bagi Prabowo untuk menjauhkan diri dari figur penting seperti Jokowi, Megawati Soekarnoputri, maupun SBY.
Meskipun demikian, keberadaan figur lama tersebut bukan sekadar faktor kedekatan personal atau politik semata. Keputusan tersebut tetap didasarkan pada kebutuhan mendesak pemerintahan dan penilaian kinerja oleh sang presiden.
"Pak Prabowo itu saya kira punya preferensi sendirilah untuk bagaimana mengganti orang-orang yang terafiliasi dengan kekuatan politik manapun," ungkapnya dalam siniar gelar wicara yang dipandu oleh Tatang Guritno dan Fitria Chusna Farisa ini.
Konsolidasi Kekuatan Lintas Kubu
Adi Prayitno juga menegaskan bahwa mekanisme reshuffle tetap berjalan secara objektif tanpa adanya perlakuan khusus atau tebang pilih. Figur yang tidak menunjukkan performa maksimal tetap berisiko diganti terlepas dari latar belakang partainya.
Langkah merangkul semua elemen ini dianggap sebagai strategi jitu untuk memperkuat konsolidasi kekuasaan. Prabowo berusaha memastikan bahwa semua kelompok merasa terlibat dalam pembangunan negara demi menghindari konflik horizontal.
Pandangan publik yang menduga Prabowo hanya berpihak pada satu tokoh tertentu dianggap sebagai kekeliruan dalam membaca arah kebijakan. Prabowo justru ingin membangun hubungan baik dengan seluruh mantan presiden Indonesia secara simultan.
"Jadi hai penonton, kalau berharap Pak Prabowo jauh-jauhan dengan Pak Jokowi, agak sulit. Ingin jauh-jauhan Pak Prabowo dengan SBY dan Mega, agak sulit, Pak. Karena semuanya dirangkul dan diajak kerja sama. Jadi siap-siaplah kau, kecewa," tutur Adi.
Strategi politik merangkul ini diprediksi akan membuat dukungan terhadap pemerintah tetap solid. Dengan dukungan dari berbagai faksi politik, Prabowo diharapkan dapat mengeksekusi program-program strategis nasional dengan hambatan politik yang minim di tingkat parlemen maupun publik.