Prabowo Subianto Temui Massa Buruh dalam Peringatan May Day di Monas

Prabowo Subianto Temui Massa Buruh dalam Peringatan May Day di Monas
Foto: Ilustrasi Prabowo Subianto Temui Massa Buruh dalam Peringatan May Day di Monas.

Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day di kawasan Monas, Jakarta, pada Jumat (1/5/2026). Dilansir dari Nasional, kehadiran Kepala Negara di tengah ratusan ribu buruh bertujuan untuk menyapa langsung massa yang berkumpul sejak pagi hari.

Prabowo tiba di lokasi sekitar pukul 08.37 WIB dengan mengendarai mobil taktis Maung berwarna putih. Mengenakan kemeja safari dan topi coklat muda, Presiden berdiri di atas kendaraan untuk memberikan salam hormat dan melambaikan tangan kepada para peserta aksi di sisi kiri dan kanan jalan.

Antusiasme massa terlihat saat Prabowo sesekali menjangkau tangan warga untuk bersalaman sebelum menuju panggung utama. Di atas panggung, Presiden sempat ikut menari bersama para pejabat pendamping, termasuk Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, mengikuti irama musik dari grup band Tipe X.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menjelaskan bahwa aksi tahun ini mengusung misi penyampaian aspirasi kepada pembuat kebijakan. Kelompok buruh membawa belasan poin harapan yang ditujukan bagi pemerintah pusat maupun daerah.

"Ada 11 isu atau 11 harapan yang ingin disampaikan oleh KSPI yang didukung oleh partai buruh di dalam perayaan May Day ini kepada pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintahan daerah di seluruh Indonesia," kata Said Iqbal, Presiden KSPI.

Poin-poin tuntutan tersebut mencakup desakan pengesahan RUU Ketenagakerjaan baru dan penghapusan sistem kerja alih daya. Said juga menekankan penolakan terhadap kebijakan upah rendah yang dinilai memberatkan pekerja.

"HOS, hapus outsourcing. TUM, tolak upah murah," tegas Said Iqbal, Presiden KSPI.

Isu perlindungan kerja juga menjadi sorotan, terutama terkait ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat konflik global serta kondisi industri tekstil dan nikel. Buruh meminta reformasi pajak berupa kenaikan batas penghasilan tidak kena pajak menjadi Rp 7,5 juta serta penghapusan pajak atas THR dan pesangon.

Selain itu, KSPI menuntut pengesahan RUU perampasan aset, moratorium industri semen, serta ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 tentang penghapusan kekerasan di tempat kerja. Aspirasi lain mencakup penurunan potongan tarif ojek online menjadi 10 persen dan revisi aturan penyelesaian perselisihan industrial.

Pada sektor pendidikan, Said Iqbal mendesak kepastian status bagi tenaga pengajar yang masih berstatus honorer. Ia meminta pemerintah mengubah status mereka menjadi pegawai tetap secara menyeluruh.

"Tidak ada lagi PPPK yang paruh waktu, semua harus penuh waktu," tegas Said Iqbal, Presiden KSPI.

Artikel terkait

Rekomendasi