Praktik pelanggaran di sektor sumber daya alam dan perkebunan mendapat perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto karena diduga melibatkan oknum aparat berseragam sebagai pelindung atau beking, seperti dilansir dari Media Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Rabu (20/5).
Kesulitan dalam memberantas praktik ilegal di sektor tersebut diungkapkan oleh Prabowo karena adanya perlindungan dari oknum tertentu di lapangan.
"Biasanya mereka-mereka itu ada bekingnya. Bekingnya biasanya seragamnya kalau gak ijo ya coklat," ujar Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi terhadap fenomena ini, Kepala Negara mendorong masyarakat luas untuk terlibat aktif dalam mengawasi perilaku aparat. Warga diminta menggunakan teknologi telepon genggam guna merekam serta mendokumentasikan setiap bentuk pelanggaran sebagai bukti laporan resmi.
"Punya gadget semua. Kalau ada kelakuan aparat yang enggak beres, saya minta rakyat video, langsung video, jangan kau ngelawan, video aja, lapor langsung ke saya," tegas Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Selain mengingatkan aparat, peringatan keras juga ditujukan kepada para pengusaha di bidang sumber daya alam agar tidak memanipulasi data atau menyembunyikan aset mereka. Pemerintah menegaskan telah memperkuat sistem pemantauan dengan menggunakan teknologi satelit beresolusi tinggi.
"Jangan main-main sama teknologi, mereka yang punya kebun-kebun luas, dikira tidak ada yang bisa cek. Sekarang itu ada satelit, enggak usah cek fisik, bisa kita foto. Tiap pohon bisa kita foto," jelas Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Melalui integrasi teknologi modern dan pengawasan partisipatif dari masyarakat, penipuan di sektor sumber daya alam diyakini akan lebih mudah dideteksi oleh pemerintah.
"Jadi kau mau menipu bagaimana pun, kita akan ketemu penipuan kau saudara-saudara sekalian," pungkas Prabowo, Presiden Republik Indonesia.