Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan hasil pemantauan terbaru pada Sabtu (11/4/2026) mengenai potensi munculnya fenomena El Nino berkekuatan besar yang diprediksi dapat memicu perubahan iklim ekstrem di wilayah Indonesia tahun ini.
Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustari, menjelaskan bahwa meskipun terdapat istilah populer 'El Nino Godzilla', probabilitas terjadinya kategori sangat kuat pada 2026 masih tergolong rendah di bawah angka 20 persen. Data ini merujuk pada pembaruan prediksi iklim yang dilakukan otoritas cuaca nasional tersebut sepanjang bulan April.
Dilansir dari Detik Health, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dengan waktu kedatangan yang lebih awal dibandingkan kondisi normal. BMKG mengimbau masyarakat agar tidak lengah meski intensitas ekstrem belum mendominasi model prakiraan saat ini.
"Berdasarkan prediksi BMKG, ter-update bulan April ini munculnya El Nino dengan kategori sangat kuat di tahun 2026 itu relatif kecil, yaitu di bawah 20 persen. Tapi bukan berarti kita bisa bersantai, kita harus tetap waspada," ujar Indra Gustari, Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan pada Jumat (20/3) mengenai risiko kombinasi antara El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena ganda ini berpotensi menyebabkan pembentukan awan lebih banyak terjadi di Samudra Pasifik, sehingga Indonesia mengalami kondisi cuaca yang lebih kering dan panas.
Istilah 'Godzilla' dalam konteks klimatologi merujuk pada El Nino dengan intensitas sangat kuat, seperti yang pernah melanda tanah air pada tahun 1997 dan 2015. Secara ilmiah, BMKG hanya mengklasifikasikan fenomena ini ke dalam empat kategori resmi yakni lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat.
Kenaikan suhu ekstrem akibat fenomena ini turut membawa dampak serius pada kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa tekanan panas lingkungan dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur suhu internal, yang berujung pada risiko serangan panas (heat stroke).
Paparan panas yang berkepanjangan diketahui dapat memperburuk kondisi pasien dengan penyakit kronis, termasuk gangguan kardiovaskular, diabetes, dan masalah pernapasan. Selain itu, suhu tinggi juga memberikan beban kerja tambahan pada organ jantung dan ginjal dalam upaya mendinginkan suhu tubuh.
Intervensi medis secara cepat sangat diperlukan saat peringatan panas dikeluarkan, mengingat risiko kematian dan rawat inap akibat cuaca ekstrem dapat terjadi pada hari yang sama dengan lonjakan suhu. Pemerintah terus memantau pergerakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik untuk memperbarui peringatan dini secara berkala.