Model cuaca musiman memprediksi kemunculan fenomena El Nino kuat yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia mulai pertengahan tahun ini. Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator tersebut diperkirakan akan meningkatkan suhu global secara signifikan, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Peningkatan suhu permukaan laut yang berlangsung cepat menjadi indikator utama penguatan fenomena ini dalam beberapa bulan mendatang. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa El Nino biasanya berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan dan berulang dalam siklus dua hingga tujuh tahun.
"Saya rasa kita akan menyaksikan peristiwa cuaca yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern," ujar Jeff Berardelli, Chief Meteorologist and Climate Specialist WFLA-TV.
Pakar iklim memberikan peringatan mengenai kemungkinan terjadinya kategori El Nino yang sangat kuat atau sering disebut sebagai Super El Nino. Kondisi ini dipicu oleh pergerakan panas di bawah permukaan Pasifik yang mulai naik ke permukaan dan mendistribusikan ulang energi panas ke seluruh atmosfer Bumi.
"Salah satu elemen kunci agar fenomena ini benar-benar terwujud faktanya sedang terjadi. Kita masih belum tahu persis apa yang akan terjadi. Belum ada kepastian bahwa ini menjadi Super El Nino. Namun, ada potensi terjadinya sesuatu yang benar-benar luar biasa," kata Daniel Swain, ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources.
Dampak dari pelepasan energi panas ini diperkirakan akan mengacaukan sistem iklim, mulai dari gelombang panas yang lebih intens hingga kekeringan parah di sejumlah wilayah. Di sisi lain, peningkatan kelembapan udara akibat penguapan tinggi berisiko mendatangkan banjir besar di lokasi lainnya.
"Saat ini, semua indikator menunjukkan bahwa tahun depan akan menjadi tahun yang cukup liar dari sudut pandang iklim global," ujar Swain.
Kondisi iklim global pada tahun 2026 juga diprediksi terancam oleh degradasi hutan yang meluas di wilayah Amazon akibat kombinasi kebakaran dan kekeringan. Selain itu, El Nino diperkirakan akan menekan intensitas badai di Samudra Atlantik karena dominasi panas di wilayah Pasifik.
"Meskipun El Nino sedikit meningkatkan suhu global selama satu atau dua tahun, pada dasarnya fenomena ini adalah "situasi impas"," ujar Michael Mann, ilmuwan iklim University of Pennsylvania.
Mann menjelaskan bahwa pola iklim umumnya akan berayun kembali menuju fase La Nina setelah periode El Nino berakhir. Siklus pendinginan tersebut nantinya akan menurunkan suhu global kembali dalam jangka waktu satu hingga dua tahun berikutnya.