Teknologi jaringan 5G diproyeksikan memberikan kontribusi ekonomi sebesar 41 miliar dollar AS atau sekitar Rp710,3 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada periode 2026 hingga 2030. Estimasi tersebut disampaikan oleh Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, saat pembukaan seminar IndoTelko Forum di Jakarta pada Rabu (29/4/2026).
Pencapaian nilai ekonomi tersebut dilandasi oleh asumsi pengembangan teknologi terbarukan yang menjadi motor pertumbuhan baru bagi tanah air. Dilansir dari Money, angka kontribusi ini setara dengan Rp710,3 triliun menggunakan nilai tukar Rp17.270 per dollar AS.
"5G di Indonesia dapat menambahkan 41 juta dollar (AS) untuk GDP antara tahun ini dan 2030," ujar Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.
Kebutuhan terhadap konektivitas yang merata dinilai sangat mendesak mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Strategi pengelolaan spektrum yang tepat dianggap krusial untuk menghadirkan akses broadband berkualitas tinggi hingga ke wilayah terpencil.
"5G akan mengembangkan perkembangan inklusif, mengembangkan broadband kualitas tinggi, pembayaran digital, dan e-services penting seperti e-health, pendidikan, portal pemerintah, banking, lebih dari kota-kota besar, lebih ke kawasan jauh," papar Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.
Penerapan jaringan privat 5G juga menyasar sektor industri seperti pabrik, pelabuhan, dan logistik untuk memperkuat daya saing global. Sektor-sektor prioritas nasional ini diharapkan mengalami peningkatan produktivitas melalui otomatisasi dan efisiensi operasional.
"5G secara langsung memperkuat sektor prioritas. 5G secara privat di pabrik, port, logistik, dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kompetitif," kata Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.
Infrastruktur ini juga menjadi fondasi bagi pengembangan kota pintar yang mengintegrasikan sistem transportasi dan keamanan publik di perkotaan. Selain itu, sinergi antara 5G dengan cloud dan edge computing akan mendukung akselerasi inovasi kecerdasan buatan (AI) di berbagai bidang kreatif.
Optimalisasi manfaat teknologi tersebut memerlukan kepastian regulasi dan pengelolaan spektrum yang transparan dari pemerintah. Kolaborasi antara operator seluler, pelaku industri, dan institusi pendidikan sangat diperlukan guna membangun ekosistem digital yang tangguh.
"I pikir saatnya sekarang, kesempatan berada di depan kita, dan kita semua di sini untuk berkolaborasi dan bergerak ke depan dengan perjalanan 5G dan AI baru ini," ucap Nora Wahby, Presiden Direktur Ericsson Indonesia.