BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Masa Pancaroba di Indonesia

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Masa Pancaroba di Indonesia
Foto: Ilustrasi BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Masa Pancaroba di Indonesia.

Sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini mengalami fenomena cuaca yang berubah drastis dari langit terik di siang hari menjadi hujan lebat pada sore hingga malam hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa pola cuaca ekstrem ini merupakan ciri khas masa pancaroba yang diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Dilansir dari Kompas, BMKG mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap terjadi di berbagai titik selama periode 24-26 April 2026.

Data menunjukkan Papua Selatan mencatat curah hujan tertinggi mencapai 112,6 mm per hari, yang diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dengan angka 70,5 mm per hari.

Hujan intensitas lebat juga terdeteksi di Sumatera Barat (63,4 mm), Kepulauan Bangka Belitung (63,1 mm), Nusa Tenggara Timur (56,5 mm), Papua Tengah (54,1 mm), dan Sulawesi Selatan (50,4 mm).

Kombinasi berbagai dinamika atmosfer yang masih aktif menjadi penyebab utama hujan tetap turun meskipun suhu udara pada siang hari terasa sangat menyengat.

Pertumbuhan awan hujan dipicu oleh gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang bergerak aktif di wilayah Indonesia.

Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) turut memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan awan secara spasial di beberapa daerah.

Sirkulasi siklonik yang terpantau di pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Barat memperkuat terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang meningkatkan peluang hujan.

Pemanasan permukaan yang tinggi pada siang hari memicu pembentukan awan konvektif, didukung kelembapan udara yang masih tinggi pada lapisan bawah atmosfer.

Catatan Suhu Panas di Berbagai Daerah

Di balik potensi hujan, beberapa wilayah Indonesia justru mencatatkan suhu maksimum harian yang cukup ekstrem dalam periode 24-26 April 2026.

Kalimantan Barat mencatatkan suhu tertinggi mencapai 37,0 derajat Celsius, disusul oleh Sumatera Utara yang mencapai 36,3 derajat Celsius.

Daerah lain seperti Sulawesi Tengah mencatat 36,2 derajat Celsius, sementara Banten dan Kalimantan Tengah berada pada angka 36,0 derajat Celsius.

Tingginya intensitas radiasi matahari ini dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berada di sekitar garis khatulistiwa saat ini.

Minimnya tutupan awan serta dominasi angin timuran yang kering dari Australia turut menghambat pembentukan awan pada siang hari dan memperkuat pemanasan permukaan.

Proyeksi Kondisi Cuaca Sepekan ke Depan

Berdasarkan analisis BMKG, fenomena iklim global seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam kondisi netral sehingga tidak berpengaruh signifikan.

Meskipun angin timuran mulai mendominasi sebagai tanda transisi menuju musim kemarau, potensi hujan lokal yang mendadak masih tetap tinggi.

Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, sementara gelombang Kelvin aktif di area Sulawesi Selatan hingga Papua.

BMKG juga mengidentifikasi sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik utara Papua yang membentuk daerah pertemuan angin memanjang yang memicu pertumbuhan awan hujan.

Perbedaan suhu yang signifikan antara siang dan malam memicu proses konveksi kuat yang berpotensi menghasilkan hujan disertai kilat dan angin kencang berdurasi singkat.

Masyarakat diimbau mewaspadai dampak kesehatan seperti dehidrasi akibat suhu panas, serta tetap berhati-hati terhadap perubahan cuaca mendadak pada sore hari.

Artikel terkait

Rekomendasi