Gerbong Tengah Menjadi Posisi Paling Aman Saat Kecelakaan Kereta Api

Gerbong Tengah Menjadi Posisi Paling Aman Saat Kecelakaan Kereta Api
Foto: Ilustrasi Gerbong Tengah Menjadi Posisi Paling Aman Saat Kecelakaan Kereta Api.

Insiden tabrakan antara kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.50 WIB. Peristiwa ini memicu diskusi publik mengenai aspek keselamatan dan pemilihan posisi duduk penumpang guna meminimalisir risiko fatalitas saat terjadi kecelakaan.

Data statistik menunjukkan bahwa moda transportasi kereta api sebenarnya memiliki tingkat risiko yang relatif rendah. Berdasarkan laporan The Washington Post, risiko kecelakaan saat berkendara di jalan raya mencapai 17 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan kereta api, mengingat kereta beroperasi pada jalur khusus dengan sistem pengamanan palang pintu.

Meskipun demikian, pemilihan posisi gerbong tetap menjadi faktor krusial dalam keselamatan. Dilansir dari Suara, para ahli menyarankan penumpang untuk memilih posisi di bagian tengah rangkaian gerbong karena area ini paling jarang terdampak kerusakan parah saat terjadi benturan dari arah depan maupun belakang.

Greg Placencia, peneliti sekaligus asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California, menjelaskan bahwa konstruksi kereta biasanya paling rentan pada bagian ujung. Kerusakan signifikan akibat rel rusak atau benturan keras umumnya terkonsentrasi pada gerbong pertama dan kedua.

"Alasan mengapa beberapa orang mengatakan bagian tengah adalah tempat yang aman adalah sangat sederhana," kata Greg Placencia, peneliti sekaligus asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California.

Ia menambahkan bahwa kecelakaan yang bersumber dari arah belakang memang bisa terjadi, namun frekuensinya jauh lebih jarang dibandingkan benturan dari arah depan.

"Banyak kecelakaan datang dari depan, sehingga gerbong pertama dan kedua adalah gerbong yang terpukul paling keras. Beberapa kecelakaan datang dari belakang, tapi ini tak umum. Sedangkan di bagian tengah, kerusakan tak akan terlalu parah," kata Greg Placencia, peneliti sekaligus asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California.

Data pendukung mengenai keamanan kereta juga disampaikan oleh pakar teknik lainnya. Allan Zarembski, profesor penelitian dan direktur teknik kereta api serta program keselamatan di University of Delaware, mencatat adanya tren penurunan angka kecelakaan kereta secara global jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya.

"Kecelakaan kereta jarang terjadi," kata Allan Zarembski, profesor penelitian dan direktur teknik kereta api serta program keselamatan di University of Delaware.

Zarembski merujuk pada statistik tahun 2014 yang menunjukkan tingkat insiden hanya sebesar 2,2 kecelakaan per juta mil perjalanan kereta api.

"Tingkat kecelakaan kereta di 2014 adalah 2,2 kecelakaan per juta mil kereta. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, angka ini sudah menurun," kata Allan Zarembski, profesor penelitian dan direktur teknik kereta api serta program keselamatan di University of Delaware.

Selain pemilihan gerbong, arah hadap kursi penumpang juga memiliki pengaruh terhadap proteksi fisik. Zarembski menyarankan penumpang untuk memilih kursi yang menghadap ke belakang jika memungkinkan.

"Saya pribadi lebih suka duduk menghadap belakang karena dalam kebanyakan kasus, Anda akan terdorong ke depan ketika ada pengereman darurat," kata Allan Zarembski, profesor penelitian dan direktur teknik kereta api serta program keselamatan di University of Delaware.

Berdasarkan jurnal ilmiah Bandolier, peluang kematian penumpang dalam kecelakaan kereta di Amerika tercatat sebesar 1 banding 1.871.241 orang. Angka kematian pada layanan kereta jarak jauh diperkirakan hanya mencapai 0,43 jiwa per satu miliar mil perjalanan yang ditempuh.

Artikel terkait

Rekomendasi