Populasi lele raksasa Mekong dilaporkan mengalami penurunan signifikan pada tahun 2026 akibat kombinasi penangkapan ikan berlebihan dan kerusakan habitat di sepanjang aliran sungai Thailand hingga Kamboja. Spesies yang pernah memecahkan rekor dunia pada 2005 ini kini masuk dalam kategori sangat terancam punah.
Dilansir dari Detik iNET, spesimen terbesar yang pernah didokumentasikan ditemukan di desa Hat Khrai pada tahun 2005 dengan berat mencapai 293 kilogram. Ikan sepanjang 2,7 meter tersebut sempat ditangani oleh pejabat perikanan Thailand sebelum akhirnya mati dan dagingnya dikonsumsi warga lokal.
Data terbaru menunjukkan bahwa rata-rata berat ikan lele ini merosot dari 180 kilogram menjadi hanya 80 kilogram dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Penurunan sebesar 55 persen tersebut disebabkan oleh pembangunan bendungan yang menghambat migrasi serta meningkatnya polusi air.
Fisik lele raksasa dewasa umumnya memiliki kepala lebar, tubuh pucat, dan ekor yang kuat tanpa gigi karena hanya mengonsumsi alga dan tumbuhan. Meskipun secara tradisional dagingnya dikonsumsi masyarakat setempat, para ilmuwan kini melarang keras penangkapan liar demi menjaga kelestarian spesies.
Pemerintah di wilayah sekitar Sungai Mekong mulai menerapkan zona lindung dan program penangkaran untuk mencegah kepunahan total. Upaya ini dilakukan mengingat peran penting ikan tersebut dalam ekosistem dan budaya masyarakat agraris di wilayah tersebut.
"Mengetahui raksasa-raksasa ini menyusut, baik ukuran maupun jumlah, rasanya seperti kehilangan sebagian kecil dari Kamboja. Keberadaan mereka memiliki makna budaya dan ekologis mendalam," ujar Sophorn Uy, peneliti dari Royal University of Agriculture di Phnom Penh.
Saat ini, berbagai organisasi konservasi terus memantau titik-titik migrasi kritis untuk memastikan sisa populasi lele raksasa dapat bereproduksi secara alami. Larangan penangkapan ikan di area tertentu menjadi langkah utama dalam strategi perlindungan fauna air tawar terbesar di dunia tersebut.