Polusi Pembangkit Listrik Batu Bara Turunkan Efisiensi Panel Surya

Polusi Pembangkit Listrik Batu Bara Turunkan Efisiensi Panel Surya
Foto: Ilustrasi Polusi Pembangkit Listrik Batu Bara Turunkan Efisiensi Panel Surya.

Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa polusi udara yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara memicu penurunan tingkat efisiensi pada panel surya. Fenomena ini berdampak langsung pada optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan di tingkat global.

Seperti dilansir dari Lestari, partikel kotor atau aerosol yang terlepas ke atmosfer akibat pembakaran batu bara telah memangkas produksi listrik tenaga surya di seluruh dunia sebesar 5,8 persen sepanjang tahun 2023. Penurunan ini setara dengan hilangnya pasokan energi bersih sebesar 111 terawatt-hours (TWh).

Studi yang digarap oleh University of Oxford dan University College London (UCL) ini dipublikasikan pada 15 Mei di jurnal Nature Sustainability. Tim peneliti memanfaatkan data satelit untuk memetakan sekaligus menguji lebih dari 140.000 pasang panel surya di berbagai belahan dunia.

Data kondisi udara terkait polusi kemudian diintegrasikan dalam penelitian ini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengukur volume sinar matahari yang hilang serta menghitung dampak riilnya terhadap proses produksi daya listrik.

Catatan performa antara tahun 2017 dan 2023 menunjukkan volume pemasangan panel surya baru secara global mampu mendongkrak produksi listrik sekitar 247 TWh per tahun. Namun, kontaminasi udara memicu hilangnya potensi daya hingga 74 TWh setiap tahun, yang berarti sepertiga dari total produksi listrik surya terbuang tanpa hasil.

"Kita melihat pertumbuhan energi terbarukan yang sangat cepat di seluruh dunia, tetapi efektivitas dari peralihan energi tersebut ternyata lebih rendah daripada yang sering dikira," jelas Dr. Rui Song, ketua penulis penelitian.

"Karena pembangkit listrik batu bara dan panel surya sama-sama bertambah banyak di saat yang bersamaan, asap polusi mengubah kondisi cahaya di langit, yang secara langsung merusak kinerja produksi listrik tenaga surya," terangnya lagi.

Paparan polusi udara tidak sekadar menghalangi jalannya penetrasi sinar matahari ke permukaan bumi. Polutan tersebut juga memodifikasi struktur awan, yang berpotensi menekan volume produksi listrik dari tenaga surya ke tingkat yang lebih rendah.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa dampak buruk yang terjadi di lapangan kemungkinan jauh lebih besar daripada angka perhitungan saat ini. Akibatnya, proyeksi kontribusi tenaga surya dalam menekan polusi berisiko terlalu tinggi jika emisi dari pembangkit batu bara tidak segera dikendalikan.

Laporan riset tersebut mengonfirmasi bahwa penyusutan energi terbesar terdeteksi di wilayah-wilayah yang menempatkan ladang panel surya berdekatan dengan pembangkit listrik batu bara. Situasi ini terlihat sangat kontras di wilayah China.

China memegang status sebagai produsen energi surya terbesar di dunia, namun di sisi lain masih memiliki ketergantungan yang masif terhadap komoditas batu bara. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat satu dari setiap empat ton batu bara global dibakar demi menyuplai listrik di negara tersebut.

Defisit produksi listrik surya akibat polusi udara di China menyentuh angka 7,7 persen dari akumulasi total. Dari seluruh akumulasi kerugian operasional panel surya di sana, sekitar 29 persen di antaranya dipicu secara spesifik oleh emisi pembangkit batu bara.

Kendati demikian, China menjadi kawasan yang memperlihatkan tren pemulihan paling konsisten dalam persoalan ini. Angka kerugian daya listrik surya akibat polutan tercatat menyusut sekitar 0,96 TWh per tahun dalam rentang waktu 2013 hingga 2023.

Perbaikan kualitas tersebut didorong oleh penerapan regulasi ambang batas emisi yang lebih ketat. Selain itu, adopsi teknologi ramah lingkungan pada operasional pabrik batu bara lokal turut memberikan dampak positif.

"Temuan kami memberikan peringatan yang jelas bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bahwa mengabaikan hilangnya energi surya akibat polusi bisa membuat pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat luas terlalu tinggi dalam memperkirakan hasil energi terbarukan," ungkap Dr. Chenchen Huang, salah satu penulis penelitian dari University of Bath.

"Agar tetap berada di jalur yang benar, kebijakan-kebijakan yang dibuat harus memperhitungkan hambatan tersembunyi ini dan memindahkan subsidi bahan bakar fosil agar tidak lagi diberikan kepada batu bara," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi