Bareskrim Polri Bongkar Markas Judi Online Internasional di Jakarta Barat

Bareskrim Polri Bongkar Markas Judi Online Internasional di Jakarta Barat
Foto: Ilustrasi Bareskrim Polri Bongkar Markas Judi Online Internasional di Jakarta Barat.

Bareskrim Polri menggerebek markas judi online internasional di sebuah gedung kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Sabtu pekan lalu, yang melibatkan ratusan warga negara asing. Operasi ini mengungkap pergeseran markas sindikat lintas negara ke Indonesia serta dampak destruktif aktivitas ilegal tersebut terhadap ketahanan keluarga dan kesehatan mental masyarakat.

Dilansir dari Nasional, kepolisian mengamankan 321 orang dalam operasi tersebut yang terdiri dari 320 WNA dan satu WNI. Para WNA berasal dari berbagai negara, mencakup 228 orang asal Vietnam, 57 dari China, 13 dari Myanmar, 11 dari Laos, lima dari Thailand, serta masing-masing tiga orang dari Malaysia dan Kamboja.

"Kami menemukan dugaan aktivitas perjudian yang dilakukan secara terorganisir dan melibatkan WNA dari berbagai macam negara," ujar Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Wira Satya Triputra.

Penyidik mengidentifikasi sedikitnya 75 domain dan situs web yang digunakan sebagai sarana perjudian dengan kombinasi karakter khusus untuk menghindari pemblokiran otoritas. Penemuan ini memicu kekhawatiran publik, termasuk Daniel, seorang pekerja di Jakarta yang menyaksikan rekan kerja dan kerabatnya hancur akibat kecanduan layanan digital tersebut.

"Nah, di situ justru jadi jebakannya. Dia pasti pertama kali pasang misalnya main Rp 500.000, Rp 1 juta, Rp 2 juta, awal-awal dikasih (menang), tuh. Sampai akhirnya ketagihan dia pernah duit buat modal nikah diadu sama dia, ternyata kalah. Berapa puluh juta," cerita Daniel, Senin (12/5/2026).

Daniel mengungkapkan bahwa rekannya sempat mengalami depresi berat hingga muncul keinginan mengakhiri hidup setelah kehilangan uang hingga ratusan juta rupiah. Beruntung, rekan tersebut berhasil pulih meski Daniel tetap memperingatkan bahaya serupa kepada lingkungan sekitarnya.

"Ya gue diingetin supaya enggak kayak gitu. Nyesel, lah. Pernah dia cerita pas itu tuh pengin gila apa pengin bunuh diri, gitu pokoknya. Sekarang sudah nikah," beber Daniel.

Kisah pilu lain diungkapkan Daniel mengenai kerabatnya berinisial R yang kerap memanipulasi pinjaman uang dengan alasan membeli susu anak. Padahal, uang tersebut digunakan untuk setoran deposit tanpa sepengetahuan istrinya yang kini terjebak dalam dilema rumah tangga.

"Sampai sekarang belum cerai. Itu, lah, nggak ada untungnya. Sengsara doang yang ada," ujar Daniel.

Daniel memandang fenomena ini sebagai ancaman nyata yang bisa menyasar siapa saja di lingkungan terdekat. Risiko kehancuran keluarga menjadi dampak nyata yang ia khawatirkan seiring masifnya markas kejahatan digital ini.

"Mungkin besok nyasar ke teman dekat kita, atau siapanya kita, kan nggak tahu," tutur Daniel.

Psikolog Anak dan Remaja, Novita Tandri, menilai maraknya aktivitas judi online sebagai ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia dan pola asuh. Masalah ini telah bergeser dari sekadar kriminalitas digital menjadi gangguan kesehatan mental yang merusak stabilitas emosional keluarga.

"Banyak orangtua yang awalnya mencoba karena rasa penasaran atau tekanan ekonomi, namun akhirnya terjebak dalam pola adiksi yang sulit dihentikan. Kondisi ini sering memicu konflik rumah tangga, kebohongan, utang, emosi yang tidak stabil, bahkan kekerasan verbal maupun fisik," kata Novita.

Menurut Novita, anak-anak menjadi pihak paling rentan karena paparan stres finansial dan hilangnya figur teladan dari orang tua. Ketertarikan pada uang instan tanpa kerja keras dikhawatirkan akan menanamkan pola pikir impulsif pada generasi muda di masa depan.

"Jika ini terus dinormalisasi, maka generasi muda akan semakin rentan terhadap perilaku impulsif, kecanduan digital, hingga masalah kesehatan mental di masa depan," ucap Novita.

Kurangnya kehadiran emosional orang tua yang mengalami adiksi juga berdampak pada kualitas komunikasi dalam rumah tangga. Novita menegaskan bahwa fenomena ini harus ditangani lintas sektor karena bersifat darurat sosial.

"Karena itu, fenomena ini harus dilihat sebagai darurat sosial dan psikologis yang memerlukan penanganan serius lintas sektor demi melindungi masa depan anak-anak Indonesia," ungkap Novita.

Individu yang terjebak adiksi cenderung menunjukkan perubahan perilaku seperti manipulatif, tertutup, hingga kehilangan kontrol diri yang ekstrem. Sensasi kemenangan instan memicu pelepasan dopamin yang sulit dikendalikan oleh sistem otak manusia.

"Individu yang kecanduan biasanya mengalami dorongan impulsif yang kuat untuk terus bermain meskipun sudah mengalami kerugian besar," sebut Novita.

Novita juga menyoroti bahaya bagi remaja yang otaknya masih berkembang, di mana kecanduan ini dapat menurunkan fokus belajar dan disiplin. Kerusakan relasi suami-istri akibat pengkhianatan finansial sering kali berujung pada perceraian dan penelantaran anak.

"Akibatnya, anak dapat mengalami penurunan fokus belajar, gangguan disiplin, kecanduan gawai, perilaku manipulatif, hingga hilangnya empati sosial. Anak juga berisiko meniru pola coping yang tidak sehat dari orangtuanya," tegas Novita.

Ketidakmampuan menjaga kepercayaan dalam keluarga menjadi faktor utama keretakan hubungan jangka panjang. Adiksi judi online dipandang sebagai penghancur sistem internal keluarga yang sangat masif.

"Karena itu, judi online perlu dipahami sebagai adiksi serius yang dapat menghancurkan sistem keluarga dari dalam," tegas Novita.

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menjelaskan bahwa pemindahan operasi sindikat ke Indonesia merupakan pola kejahatan transnasional. Hal ini dipicu oleh tindakan tegas pemerintah Vietnam yang melakukan pemberantasan besar-besaran di wilayahnya.

ÔÇ£Kejahatan Trans-National mirip dengan balon yang jika dipencet bagian kiri maka akan membesar bagian kanan. Dan sebaliknya," ungkap Adrianus, Senin.

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menambahkan bahwa infrastruktur internet yang cepat dan kemudahan kebijakan visa on arrival menjadi daya tarik bagi bandar internasional. Kurangnya kecurigaan masyarakat terhadap aktivitas di gedung perkantoran juga memudahkan sindikat ini beroperasi.

"Jadi kita belajar lagi, enggak perlu saling menyalahkan apa yang sudah terjadi," ucap Alfons.

Menanggapi situasi ini, Anggota Komisi III DPR Abdullah mendesak Polri untuk terus mengejar seluruh jaringan ilegal ini tanpa berhenti pada satu kasus saja. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas teknologi aparat untuk mengimbangi kemajuan teknologi pelaku kejahatan.

"Bongkar jaringan judol yang lain. Semua jaringan judol harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegas Abdullah, Senin.

Abdullah menegaskan bahwa negara harus memprioritaskan pemberantasan ini demi melindungi masa depan generasi muda dan ketertiban sosial. Kerja sama antarlembaga dalam melacak transaksi digital internasional menjadi kunci utama penindakan.

"Kejahatan judi online saat ini dijalankan dengan dukungan teknologi yang semakin maju. Karena itu, aparat penegak hukum juga harus terus meningkatkan kapasitas, kemampuan digital, serta penguasaan teknologi agar dapat terus selangkah lebih maju dari para pelaku," tandas Abdullah.

Artikel terkait

Rekomendasi