Polisi Tembak Pelaku Penikaman di Interstate 495 Virginia

Polisi Tembak Pelaku Penikaman di Interstate 495 Virginia
Foto: Ilustrasi Polisi Tembak Pelaku Penikaman di Interstate 495 Virginia.

Aksi penikaman membabi buta terjadi di tengah jalan tol Interstate 495 dekat Washington, DC, Fairfax County, pada 1 Maret lalu setelah pukul 13.00 waktu setempat hingga mengakibatkan seorang perempuan dan seekor anjing tewas.

Pihak Kepolisian Negara Bagian Virginia terpaksa menembak tersangka pria yang membawa pisau demi membela diri setelah merespons panggilan kecelakaan mobil lalu lintas, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.

Seorang saksi mata perempuan yang enggan disebutkan identitasnya mengaku melihat langsung proses penembakan terhadap pelaku penikaman di lokasi kejadian.

"Seorang petugas keluar dan langsung menembaknya, dari apa yang saya lihat, setidaknya dua hingga tiga kali," ujar saksi mata.

Ibu dua anak tersebut langsung menghubungi nomor darurat 911 dalam keadaan histeris karena merasa sangat ketakutan setelah menyaksikan peristiwa tragis tersebut secara langsung.

"Saya ketakutan jika ada orang lain yang terlibat, atau jika ini adalah operasi yang lebih besar daripada sekadar aksi orang gila," ungkap saksi mata.

Saksi mata itu kini mengalami trauma mendalam berupa kilas balik setiap melihat ambulans atau sirene, sehingga harus menjalani terapi dan mengambil cuti berbayar selama delapan minggu dari tempatnya bekerja.

"Saya sedang menjalani terapi, tetapi saya masih mengalami momen-momen yang bagi warga sipil biasa tampak sederhana namun membuat saya tersentak, dan saya harus memberikan belas kasihan pada diri sendiri," tutur saksi mata.

Pakar terapi trauma asal Philadelphia, Shari Botwin, menganjurkan para korban atau saksi untuk segera menceritakan atau menuliskan pengalaman mereka demi mempercepat proses pemulihan psikologis.

"Ketika Anda memproses, berbicara, dan menamai pengalaman tersebut, Anda cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kilas balik atau menjadi terlalu waspada, atau masuk ke dalam mode lawan-atau-lari (fight-or-flight)," jelas Botwin.

Botwin juga mengingatkan agar individu tidak menyepelekan trauma serta menghindari tindakan pelarian yang bersifat merusak diri sendiri selama masa pemulihan.

"Kita memiliki kecenderungan sebagai manusia untuk meremehkan trauma... Namun realitasnya adalah, tidak ada yang bisa mengendalikan bagaimana mereka menghadapi trauma," pungkas Botwin.

Untuk metode pemulihan, psikolog klinis Ricky Greenwald merekomendasikan terapi eye movement desensitization and reprocessing (EMDR) yang dinilai efektif mengurangi gejala kecemasan sejak akhir 1980-an.

Artikel terkait

Rekomendasi