Polisi Identifikasi Remaja Pelaku Penembakan Masjid San Diego

Polisi Identifikasi Remaja Pelaku Penembakan Masjid San Diego
Foto: Ilustrasi Polisi Identifikasi Remaja Pelaku Penembakan Masjid San Diego.

Aparat penegak hukum berhasil mengidentifikasi salah satu tersangka aksi penembakan maut di Islamic Center of San Diego. Dilansir dari Media Indonesia, pelaku merupakan seorang remaja pria berusia 17 tahun bernama Cain Clark.

James Canning selaku juru bicara San Diego Unified School District mengungkapkan riwayat pendidikan Clark. Tersangka diketahui pernah belajar di Kate Sessions Elementary School dan San Diego School of Creative and Performing Arts, sebelum pindah ke sekolah daring iHigh Virtual Academy pada 2021.

Meski menempuh pendidikan daring, Clark tetap diizinkan mengikuti aktivitas olahraga di Madison High School yang berada di lingkungan rumahnya. Clark tercatat aktif sebagai anggota tim gulat di sekolah tersebut sejak tahun 2024 hingga 2025.

Pihak Madison High School memastikan bahwa Clark sudah tidak lagi berpartisipasi dalam kegiatan sekolah apa pun pada tahun ini. Padahal, prestasi Clark sempat diapresiasi oleh tim gulatnya melalui unggahan Instagram pada Januari 2024 setelah memenangi sebuah turnamen.

Dalam hal akademis, Clark berada di jalur yang tepat untuk lulus. Rekam jejak kedisiplinannya juga tergolong bersih, kecuali satu insiden masa sekolah dasar pada 2015 saat ia memukul kaki seseorang.

Aksi penembakan di pusat Islam terbesar di wilayah tersebut mengejutkan pihak keluarga pelaku. Kakek dan nenek tersangka, David dan Deborah Clark, menyampaikan penyesalan mereka saat ditemui di luar kediaman mereka.

"Kami sedang berusaha memproses kejadian ini," kata mereka kepada CNN.

"Kami sangat menyesal atas apa yang telah terjadi."

Keterlibatan Clark juga membuat mantan rekan satu tim gulatnya tidak percaya. Ia mengenang Clark sebagai siswa sekolah daring yang hanya ingin berbaur dan mencari teman baru di dalam tim gulat.

"Dia tampak seperti anak yang baik," ujar mantan rekan setimnya yang meminta identitasnya dirahasiakan.

"Dia tidak terlihat seperti seseorang yang akan melakukan tindakan seperti itu."

Rekan setimnya tersebut menambahkan bahwa dirinya tidak pernah mendengar Clark melontarkan sentimen Islamofobia, kebencian berbasis ras, ataupun melihatnya melakukan tindakan kekerasan.

"Anak itu hanya mencoba untuk membaur," tambahnya.

"Dia selalu mencoba yang terbaikÔÇödia mencoba untuk menyesuaikan diri dan mencari teman."

Insiden berdarah di California ini dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang. Salah satu korban tewas merupakan seorang penjaga keamanan masjid yang gugur demi melindungi anak-anak di dalam tempat ibadah tersebut.

Sebelum melancarkan aksinya, polisi mengungkap bahwa remaja yang sempat dilaporkan hilang ini membawa tiga senjata milik ibunya. Petugas juga menemukan sebuah surat berisi catatan ujaran kebencian umum dan rasisme.

Buntut dari peristiwa tragis ini, pengamanan di berbagai rumah ibadah di kota-kota besar Amerika Serikat seperti New York dan Los Angeles langsung diperketat. Sementara itu, Biro Investigasi Federal (FBI) kini turun tangan membantu kepolisian setempat untuk menyelidiki motif pelaku atas dugaan kejahatan kebencian.

Komunitas di lingkungan Clairemont kini berkumpul untuk saling menguatkan di tengah proses penyisiran bukti oleh tim penyidik. Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh komunitas Muslim atas tragedi ini.

"Ini adalah mimpi buruk terburuk bagi sebuah kota dan komunitas sebagai masyarakat yang merdeka," tegas Wahl dalam konferensi pers.

Artikel terkait

Rekomendasi