PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) merilis temuan 10 pola perilaku impulsif warganet melalui eksperimen sosial bertajuk JEDA yang melibatkan 158.000 partisipan di Indonesia sejak 19 Februari hingga 31 Maret 2026. Program ini bertujuan menekan risiko penipuan digital yang mencatat kerugian Rp9,1 triliun berdasarkan data Indonesia Anti Scam Center.
Hasil eksperimen yang dilansir dari Teknologi menunjukkan bahwa konten clickbait menjadi pemicu utama rasa penasaran pengguna internet. Kelompok lanjut usia atau Baby Boomers tercatat paling responsif terhadap clickbait dengan tingkat klik mencapai 7,06 persen, jauh melampaui kelompok Gen Z yang hanya sebesar 3,43 persen.
Head of PR Blibli Nazrya Octora menjelaskan bahwa kualitas keputusan konsumen sangat dipengaruhi oleh kejernihan berpikir di tengah tingginya intensitas interaksi digital saat ini. Penegasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (28/4/2026).
"Hal ini sejalan dengan upaya perlindungan konsumen yang terus digaungkan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat," kata Nazrya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Nazrya menekankan bahwa faktor kebiasaan pengguna memegang peranan vital dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, selain faktor teknologi pendukung lainnya.
"Di tengah arus informasi yang serba cepat, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak, karena keputusan yang lebih baik dimulai dari ruang jeda. Mari mulai dengan jeda10detik.comÔÇôJangan reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang," tutupnya.
Psikolog Irma Gustiana menilai penggunaan pendekatan gamifikasi dalam eksperimen ini efektif untuk melatih kendali diri konsumen secara kognitif melalui aktivitas yang menyenangkan.
"Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri dengan cara yang menyenangkan," ujarnya.
Irma menambahkan bahwa durasi bukan menjadi tolok ukur utama dalam melakukan aktivitas mindful, melainkan dampak ketenangan yang dirasakan oleh individu tersebut.
"Ketenangan itu bukan soal berapa lama, tapi seberapa terasa. Kalau sekali main sudah membuat ÔÇÿlegaÔÇÖ, artinya tujuan mindful-nya berhasil," tambah Irma.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, memberikan apresiasi terhadap inisiatif edukasi yang dikemas secara relevan bagi masyarakat.
"Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian," ujarnya.
Direktur Pemberdayaan Konsumen Ditjen PKTN Kementerian Perdagangan, Immanuel Sibero Tarigan, mengaitkan temuan ini dengan urgensi perlindungan konsumen mengingat mayoritas pengaduan berasal dari transaksi daring.
Data Direktorat Pemberdayaan Konsumen menunjukkan sebaran pengaduan transaksi hingga Desember 2025 sebagai berikut:
| Jenis Transaksi | Jumlah Aduan | Persentase |
|---|---|---|
| Transaksi Online | 7.836 | 99,35% |
| Transaksi Offline | 32 | 0,40% |
| Isu Lainnya | 19 | 0,24% |
Eksperimen JEDA juga mengidentifikasi bahwa perilaku impulsif paling sering terjadi pada jam sibuk, yaitu pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB. Selain jam sibuk, lonjakan interaksi impulsif terdeteksi pada momen khusus seperti awal Ramadan serta periode libur panjang Lebaran.