Kawasan Situ Sangiang di Kabupaten Majalengka menyimpan fenomena alam unik berupa pohon nunuk yang memiliki bentuk tidak lazim. Pohon ini memiliki akar dan batang yang tampak menjulang ke berbagai arah menyerupai delapan kaki manusia.
Struktur unik tersebut membuat pohon nunuk ini terlihat misterius sehingga memicu berbagai narasi di tengah masyarakat. Warga setempat kerap mengaitkan bentuknya dengan keberadaan pohon keramat dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun.
Dilansir dari Detik Travel pada Selasa 21 April 2026, lokasi pohon unik ini tepatnya berada di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Lingkungan hutan dan area danau yang mengelilinginya memperkuat suasana alami sekaligus nuansa mistis di lokasi tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Diding Jaenudin, mengungkapkan bahwa pohon ini telah berdiri sejak ratusan tahun silam. Keberadaannya termasuk dalam jajaran pohon tertua yang masih bertahan di kawasan lindung Situ Sangiang hingga saat ini.
Pohon yang merupakan jenis beringin ini diperkirakan sudah berusia berabad-abad. Usianya yang sangat tua menjadikan pohon tersebut sebagai bagian krusial dalam ekosistem dan catatan sejarah alam di wilayah Majalengka.
Keistimewaan utama pohon ini terletak pada formasi akar gantung yang tumbuh ke bawah hingga menyentuh permukaan tanah. Akar-akar tersebut kemudian berkembang menjadi batang tambahan yang berfungsi sebagai penyangga pohon utama, sehingga terlihat memiliki banyak kaki.
Masyarakat lokal memercayai bahwa pohon ini memiliki nilai mistis tertentu. Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah khasiat kulit pohon nunuk yang dianggap dapat membantu menjaga keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga.
Upaya Pelestarian dan Penjelasan Ilmiah
Kepercayaan tersebut sempat memicu tindakan tidak bertanggung jawab dari oknum pengunjung yang mengambil kulit batang pohon untuk dijadikan jimat. Hal ini mengakibatkan beberapa bagian batang pohon tampak mengelupas dan rusak.
Guna menjaga kelestarian aset alam ini, masyarakat setempat telah memasang pagar bambu di sekeliling pohon. Langkah perlindungan tersebut bertujuan agar pengunjung tidak lagi merusak bagian batang demi kepentingan pribadi.
Secara sains, fenomena "kaki delapan" ini dapat dijelaskan melalui proses tumbuh pohon nunuk sebagai tanaman epifit. Tanaman ini awalnya menumpang pada pohon lain sebelum akhirnya akar-akarnya menjangkau tanah dan membentuk struktur mandiri.
Faktor lingkungan serta kemungkinan adanya campur tangan manusia di masa lampau juga turut memengaruhi pola pertumbuhan akar tersebut. Saat ini, pohon nunuk berkaki delapan tetap menjadi ikon wisata alam yang memadukan keunikan hayati dan kekayaan budaya lokal Majalengka.