Pijar Foundation dan Unhas Dorong Ekosistem Kampus Inklusif Disabilitas

Pijar Foundation dan Unhas Dorong Ekosistem Kampus Inklusif Disabilitas
Foto: Ilustrasi Pijar Foundation dan Unhas Dorong Ekosistem Kampus Inklusif Disabilitas.

Upaya mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi beragam tantangan nyata. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan fasilitas yang aksesibel, belum meratanya layanan pendukung, minimnya sumber belajar adaptif, hingga kesiapan institusi dalam mengimplementasikan kebijakan di tingkat kampus.

Merespons situasi ini, Pijar Foundation bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengadakan forum Townhall Muda University bertajuk Inklusi Disabilitas dalam Pendidikan Tinggi ÔÇö Dari Pengalaman Kampus ke Dialog Kebijakan di Kota Makassar. Seperti dilansir dari Media Indonesia, kegiatan kolaboratif yang didukung oleh The Nippon Foundation ini mempertemukan mahasiswa, pemimpin muda, pembuat kebijakan, dan institusi pendidikan dalam ruang dialog yang setara.

Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andy Lukman, menekankan pentingnya penguatan inklusi melalui pendataan, koordinasi, dan tindakan kebijakan yang konkret.

"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, termasuk teman-teman penyandang disabilitas. Diskusi hari ini membuka mata dan hati kita bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi bersama. Karena itu, kami siap berkoordinasi lebih lanjut dengan Pijar Foundation dan berbagai pihak untuk memastikan budaya inklusi di perguruan tinggi dapat terus berkembang dan terlaksana dengan baik," kata Andy Lukman.

Acara tersebut dikemas dalam bentuk diskusi panel interaktif lintas sektor yang menghadirkan sejumlah pembicara utama. Di antaranya adalah Dr. Andy Lukman, M.Si.; Direktur Kemahasiswaan Unhas, Abdullah Sanusi, Ph.D.; Kepala Unit Layanan Disabilitas Unhas, Dr. Ishak Salim; perwakilan pemimpin muda; serta Program Strategist Pijar Foundation, Ellya Rizki Handayani selaku moderator.

Fokus pembahasan dalam forum ini mencakup akses partisipasi mahasiswa disabilitas, kesiapan lingkungan belajar, tata kelola lembaga, hingga penyelarasan regulasi kampus dengan pemerintah daerah.

Menurut Abdullah Sanusi, komitmen institusi terhadap isu inklusi harus diwujudkan melalui perbaikan fasilitas, penguatan koordinasi internal, serta pendampingan berkelanjutan.

"Kami percaya setiap perguruan tinggi perlu menjadikan inklusi disabilitas sebagai perhatian penting. Di Universitas Hasanuddin, pihaknya terus belajar dan berkolaborasi dengan Pusat Disabilitas untuk memastikan mahasiswa difabel mendapatkan lingkungan yang lebih aksesibel, termasuk dalam kegiatan kemahasiswaan sejak masa pengenalan kampus. Harapannya, forum ini dapat semakin membuka kesadaran kita bersama untuk memperkuat kampus yang inklusif," ujar Abdullah Sanusi.

Sementara itu, Ellya Rizki Handayani menyoroti krusialnya komitmen dari jajaran pimpinan dalam mereformasi tata kelola guna menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah difabel.

"Dari riset yang Pijar Foundation lakukan dan dari mendengar langsung dari pengurus ULD di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satu yang menjadi kunci dalam peningkatan kualitas layanan ULD adalah komitmen pimpinan serta penguatan kapasitas para koordinator Unit Layanan Disabilitas atau ULD. Oleh karena itu, Pijar Foundation mendorong peningkatan kapasitas ULD untuk menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif," ujar Ellya Rizki.

Melalui rangkaian roadshow ini, diharapkan tercipta refleksi bersama yang mendokumentasikan pengalaman para mahasiswa disabilitas. Langkah ini juga ditujukan untuk mempererat hubungan antarstakeholder sekaligus membangun pemahaman kolektif mengenai tantangan dan peluang pendidikan inklusif ke depan.

Komitmen serupa mengenai ruang belajar yang adaptif juga diinisiasi oleh perguruan tinggi lain, seperti UKRIDA yang telah memperkenalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk membangun lingkungan kampus yang aksesibel dan penuh empati.

Artikel terkait

Rekomendasi