Petugas Kebersihan DKI Jakarta Pilah Sampah di Lokasi Penampungan

Petugas Kebersihan DKI Jakarta Pilah Sampah di Lokasi Penampungan
Foto: Ilustrasi Petugas Kebersihan DKI Jakarta Pilah Sampah di Lokasi Penampungan.

Sejumlah petugas kebersihan di Jakarta tetap melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik di Lokasi Penampungan Sementara (LPS) meskipun proses pengangkutan dari rumah warga masih tercampur. Langkah ini dilakukan guna memastikan kebijakan pengelolaan sampah tetap berjalan di tengah minimnya fasilitas pendukung pada Rabu (13/5/2026).

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemilahan dari sumber belum berjalan optimal karena ketiadaan gerobak khusus untuk sampah terpilah. Dilansir dari Megapolitan, keterbatasan ini mengakibatkan petugas terpaksa menyatukan semua jenis sampah saat melakukan pengambilan dari pemukiman warga menuju tempat penampungan.

Ridho, seorang petugas pengangkut sampah di kawasan Grogol Petamburan, mengungkapkan bahwa posisi sampah saat ini memang belum terpilah karena warga memiliki tempat sampah yang berbeda-beda. Ia menjelaskan bahwa pengangkutan dilakukan secara menyeluruh dari tiap rumah meskipun kondisinya masih bercampur.

"Masih nyampur, masih nyampur semua posisinya si sampahnya belum kepilah. Jadi kita angkut mah angkut aja karena kan tong sampahnya punya masing-masing ya di rumah. Bahkan kadang ada yang enggak punya tong sampah jadi ngikutnya sama tetangganya. Jadinya ya nyampur aja," ujar Ridho.

Meskipun demikian, Ridho memberikan penegasan bahwa pemilahan tetap dilaksanakan setelah gerobak tiba di lokasi tujuan. Sampah yang memiliki nilai ekonomis seperti plastik dan kardus akan dipisahkan dari jenis sampah lainnya secara manual.

"Pas sampai sini, di LPS (Lokasi Penampungan Sementara) itu baru kita pilah gitu. Misalnya mana yang botol-botol plastik segala macam, kita pilahin, kita pisahin, terus yang kardus-kardus bekas gitu-gitulah itu yang masih bisa dipilah ya kita pilah," ucap Ridho.

Petugas juga memindahkan sampah organik yang mudah membusuk langsung ke truk besar untuk mencegah aroma tidak sedap di area penampungan. Penjelasan serupa diberikan oleh Ardi, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Tanjung Duren Selatan, mengenai mekanisme di tempat pembuangan sementara.

Ardi menekankan bahwa membiarkan sampah tercampur di TPS merupakan pelanggaran aturan. Menurutnya, pemilahan sangat penting karena adanya fasilitas bank sampah serta nilai guna dari material anorganik.

"Nanti pada saat dibuang ke TPS, itu nanti kita ambil sampah-sampah plastik, botol, nah terus kayak kardus atau apa tuh kita pisahkan. Kan kita juga di kantor kita memang ada bank sampah," jelas Ardi.

Kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah dinilai sangat krusial oleh para petugas di lapangan. Ridho menyatakan bahwa kerja sama antara masyarakat dan petugas akan berdampak pada kebersihan serta keindahan kota Jakarta secara keseluruhan.

"Namanya sampah itu harus belajar semuanya ya, nggak cuman dari petugas saja gitu yang harusnya bisa milah, tapi harusnya warga juga harus bisa milah sendiri dan makin indah kota kita," ungkap Ridho.

Para petugas mengharapkan adanya perbaikan fasilitas seperti pengadaan tong sampah tiga warna dan gerobak bersekat untuk mendukung efisiensi kerja. Ridho menginginkan adanya keteraturan pengelolaan sampah yang lebih baik di masa mendatang agar lingkungan menjadi lebih rapi.

"Harapannya ya semoga Jakarta bisa lebih bersih lah gitu urusan sampahnya bisa lebih teratur kayak di luar negeri gitu biar nggak berantakan, terus sampahnya bisa lebih rapi dan lebih terjaga kebersihannya, itu aja sih," tutup Ridho.

Artikel terkait

Rekomendasi