Perundingan Damai AS dan Iran Temui Kebuntuan Total

Perundingan Damai AS dan Iran Temui Kebuntuan Total
Foto: Ilustrasi Perundingan Damai AS dan Iran Temui Kebuntuan Total.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran selama dua bulan menemui jalan buntu pada Senin (27/4/2026). Dilansir dari Suara, kegagalan ini dipicu oleh penolakan syarat negosiasi serta blokade jalur pelayaran vital di kawasan Teluk yang belum teratasi.

Kebuntuan tersebut berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global dengan kenaikan harga minyak mentah WTO ke angka US$ 96.27 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent melampaui level US$ 100 dengan harga tepat mencapai US$ 107.63 per barel pada perdagangan Asia di awal pekan ini.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan persyaratan ketat bagi Teheran jika ingin melanjutkan proses dialog terkait penghentian konflik. Penegasan ini disampaikan Trump menyusul pembatalan kunjungan utusan khususnya ke Islamabad pada Sabtu pekan lalu.

"Jika mereka ingin bicara, mereka bisa datang atau menelepon kami. Anda tahu, ada telepon. Kami punya jalur komunikasi yang bagus dan aman," ujar Trump.

Trump menyatakan bahwa poin utama kesepakatan sangat sederhana dan berkaitan langsung dengan penghentian total ambisi persenjataan nuklir Iran. Ia menutup kemungkinan adanya pertemuan diplomatik lebih lanjut selama syarat tersebut tidak dipenuhi oleh pihak lawan.

"Kesepakatannya sangat sederhana: Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu," tegas Trump.

Merespons tekanan Washington, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan manuver diplomatik dengan mendarat di Rusia untuk mencari dukungan dari Presiden Vladimir Putin. Kunjungan ini dilakukan setelah pembicaraan melalui mediator di Pakistan dan Oman tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menggambarkan langkah menteri luar negeri tersebut sebagai bagian dari upaya perlawanan terhadap tekanan militer eksternal. Teheran memandang dukungan Moskow sebagai elemen krusial dalam menghadapi blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.

Ketegangan ini bermula dari serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu yang mengakibatkan ribuan korban jiwa. Meskipun kekuatan militer Iran melemah, kontrol mereka terhadap Selat Hormuz menjadi daya tawar besar karena jalur tersebut dilewati seperlima pasokan minyak dunia.

Di tengah tekanan domestik akibat penurunan elektabilitas, Trump dilaporkan telah menolak tawaran pembukaan kembali selat yang diajukan Iran melalui Pakistan. Penolakan terjadi karena usulan tersebut menyertakan syarat penundaan negosiasi nuklir yang dianggap belum mencukupi oleh pihak Gedung Putih.

Artikel terkait

Rekomendasi