Laporan terbaru dari World Gold Council (WGC) mengungkapkan dinamika pasar emas global yang beragam pada periode Januari hingga Maret 2026. Total permintaan emas dunia tercatat mencapai 1.231 ton, mengalami kenaikan tipis sebesar 2 persen secara tahunan.
Dikutip dari Money, lonjakan harga emas membawa nilai total permintaan ke rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, yakni menyentuh angka 193 miliar dollar AS. Hal ini terjadi meski pasar sempat mengalami koreksi setelah mencapai puncak harga pada Januari lalu.
Rata-rata harga emas dunia pada kuartal pertama tahun ini berada di level 4.873 dollar AS per ons. Meskipun harga yang tinggi mulai menekan konsumsi di beberapa lini, permintaan investasi dan aksi borong bank sentral tetap menjadi pilar utama.
Sektor investasi masih mendominasi pasar global walaupun secara volume tahunan turun 5 persen menjadi 536 ton. Menariknya, terdapat perubahan minat investor dari instrumen digital ke bentuk fisik yang sangat masif.
Permintaan terhadap emas batangan dan koin melonjak tajam hingga mencapai 474 ton. Angka ini tercatat sebagai salah satu level tertinggi dalam sejarah, menunjukkan kepercayaan kuat investor terhadap aset fisik di tengah ketidakpastian.
Di sisi lain, instrumen exchange-traded fund (ETF) justru melambat dengan adanya arus keluar modal, terutama dari pasar Amerika Serikat pada Maret 2026. Penurunan di pasar Barat ini berhasil diseimbangkan oleh kuatnya minat investasi dari kawasan Asia.
WGC menyatakan, "Permintaan investasi Asia yang kuat mengimbangi arus keluar ETF Barat pada kuartal pertama." Pernyataan tersebut menegaskan adanya pergeseran geografis sumber permintaan emas dunia saat ini.
Tekanan Harga pada Industri Perhiasan
Berbeda dengan sektor investasi, industri perhiasan justru terpuruk akibat mahalnya harga komoditas ini. Konsumen global cenderung menahan diri atau beralih ke alternatif lain yang lebih terjangkau secara ekonomi.
China menjadi wilayah yang terdampak paling signifikan dengan penurunan permintaan perhiasan sebesar 32 persen secara tahunan menjadi hanya 85 ton. Faktor utama pelemahan ini adalah harga yang menjulang serta rendahnya kepercayaan konsumen.
Selain masalah harga, perubahan kebijakan pajak pertambahan nilai (VAT) terhadap perhiasan emas di China turut memberikan tekanan tambahan. Kondisi ini memperparah volume permintaan yang sudah tertekan sejak awal tahun.
Peran Strategis Bank Sentral dan Pasokan
Bank sentral di berbagai negara tetap melanjutkan tren diversifikasi cadangan devisa dengan melakukan pembelian emas dalam jumlah besar. Langkah strategis ini menjadi penopang stabilitas harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi ketersediaan, total pasokan emas global meningkat 2 persen menjadi 1.231 ton. Kenaikan ini dipicu oleh produksi tambang yang mencapai rekor tertinggi kuartalan sebesar 885 ton serta peningkatan aktivitas daur ulang emas.
| Indikator Pasar | Volume (Ton) | Perubahan (yoy) |
|---|---|---|
| Total Permintaan | 1.231 | Naik 2% |
| Investasi Fisik (Batangan/Koin) | 474 | Sangat Tinggi |
| Produksi Tambang | 885 | Naik 2% |
| Aktivitas Daur Ulang | 346 | Naik 5% |
Aktivitas daur ulang perhiasan lama oleh konsumen meningkat 5 persen karena tergiur dengan harga jual kembali yang tinggi. Dinamika ini membuktikan bahwa harga emas tidak hanya memengaruhi daya beli, tetapi juga merangsang sisi suplai pasar.
Asia Menjadi Motor Pertumbuhan
India mencatatkan pertumbuhan permintaan yang mengesankan sebesar 10 persen menjadi 151 ton. Sektor investasi di India yang mencapai 82 ton mampu menutupi penurunan yang terjadi pada sektor perhiasan di negara tersebut.
Secara nilai, pasar emas di India melonjak hampir dua kali lipat menjadi sekitar 25 miliar dollar AS. Tren ini mengindikasikan pergeseran perilaku masyarakat yang kini lebih memandang emas sebagai alat investasi daripada sekadar perhiasan.
WGC memproyeksikan faktor geopolitik akan terus menjadi penggerak utama permintaan emas di masa depan. Ketidakpastian global diprediksi tetap mendukung minat terhadap emas batangan, koin, serta aksi beli oleh bank-bank sentral dunia.
"Faktor geopolitik diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang mendorong permintaan emas pada tahun 2026 dan seterusnya," terang WGC. Kondisi pasar ke depan akan sangat bergantung pada interaksi kebijakan moneter dan perilaku investor lintas kawasan.