Perempuan India Meninggal Dunia Usai Disuntik Darah Positif HIV

Perempuan India Meninggal Dunia Usai Disuntik Darah Positif HIV
Foto: Ilustrasi Perempuan India Meninggal Dunia Usai Disuntik Darah Positif HIV.

Seorang perempuan berusia 24 tahun berinisial R ditemukan meninggal dunia pada Jumat, 10 April 2026, di Hyderabad, India, setelah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa tragis ini terjadi tepat satu bulan setelah korban mengalami serangan fisik berupa penyuntikan paksa darah yang terinfeksi virus HIV.

Aksi kriminal tersebut dilakukan oleh mantan kekasih korban yang berinisial Manohar setelah lamaran pernikahannya ditolak. Sebagaimana dilansir dari Detik Health yang mengutip pemberitaan NDTV, pelaku nekat melakukan tindakan tersebut karena merasa sakit hati rencana pernikahan mereka dibatalkan oleh pihak keluarga perempuan.

Pembatalan pernikahan bermula ketika keluarga korban meminta Manohar melakukan tes kesehatan sebagai prasyarat pada September tahun lalu. Langkah ini diambil setelah diketahui bahwa orang tua Manohar mengidap HIV, dan hasil tes menunjukkan bahwa Manohar sendiri juga positif mengidap virus tersebut.

Demi menjaga kesehatan di masa depan, korban langsung menghentikan rencana pernikahan mereka. Penolakan ini memicu kemarahan Manohar yang kemudian mendatangi kediaman korban pada 11 Maret lalu untuk menyuntikkan darahnya sendiri yang terinfeksi ke tubuh korban secara paksa.

Dampak dari serangan tersebut menimbulkan luka psikologis yang sangat mendalam bagi korban. Pihak kepolisian melaporkan bahwa korban mengalami stres mental yang sangat berat serta trauma emosional akibat ketakutan akan penyakit tersebut dan tekanan sosial yang muncul setelah kasusnya viral di media sosial.

Kepolisian Pocharam IT Corridor mengonfirmasi bahwa tekanan mental menjadi pendorong utama tindakan nekat korban. Spekulasi mengenai penyebab kematian ini diperkuat oleh temuan catatan terakhir yang ditulis oleh korban sebelum meninggal dunia.

"Kami menduga kuat bahwa dampak psikologis dari serangan HIV dan tekanan sosial itulah yang mendorongnya mengambil langkah ini," ujar inspektur polisi setempat.

Dalam pesan terakhirnya, korban mengungkapkan permohonan maaf kepada kedua orang tuanya. Ia juga menyatakan perasaan hancur karena merasa pelaku telah merusak masa depannya secara permanen melalui infeksi virus tersebut.

Pihak berwenang menyatakan bahwa selain trauma dari serangan fisik, hilangnya privasi dan banyaknya komentar negatif di platform media sosial memperburuk kondisi mental korban. Polisi telah menangkap pelaku tak lama setelah kejadian penyuntikan paksa tersebut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Artikel terkait

Rekomendasi