Mengenal Perbedaan Dome of the Rock dan Masjid Al Aqsa di Yerusalem

Mengenal Perbedaan Dome of the Rock dan Masjid Al Aqsa di Yerusalem
Foto: Ilustrasi Mengenal Perbedaan Dome of the Rock dan Masjid Al Aqsa di Yerusalem.

Dome of the Rock atau Kubah Batu berdiri sebagai salah satu bangunan paling ikonik di cakrawala Yerusalem. Dilansir dari Kompas, struktur ini sering kali disalahpahami oleh masyarakat umum sebagai Masjid Al Aqsa karena letaknya yang berdekatan.

Padahal, keduanya merupakan bangunan terpisah yang memiliki fungsi serta sejarah berbeda, meskipun berada dalam satu kawasan suci al-Haram al-Sharif. Umat Yahudi mengenal area ini dengan sebutan Temple Mount atau Bukit Bait Suci.

Kubah Batu ini didirikan pada akhir abad ke-7 Masehi di bawah perintah Khalifah Abd al-Malik ibn Marwan dari Dinasti Umayyah. Bangunan ini memegang status sebagai monumen Islam tertua yang masih berdiri kokoh hingga masa kini.

Prasasti di dalam bangunan menunjukkan bahwa pembangunannya selesai sekitar tahun 691ÔÇô692 Masehi atau tahun 72 Hijriah. Keberadaannya menjadi simbol penting dari awal perkembangan peradaban dan seni arsitektur Islam di dunia.

Bagi umat Islam, nilai religius bangunan ini terletak pada batu besar yang dinaunginya. Batu tersebut diyakini sebagai titik keberangkatan Nabi Muhammad SAW saat peristiwa MiÔÇÖraj menuju langit untuk menemui Allah.

Perbedaan Fisik dengan Masjid Al Aqsa

Masjid Al Aqsa yang sebenarnya terletak di sisi selatan kompleks al-Haram al-Sharif. Bangunan ini memiliki ciri khas berupa kubah berwarna abu-abu gelap, berbeda dengan Dome of the Rock yang mencolok dengan lapisan emasnya.

Masjid Al Aqsa diyakini sebagai lokasi pendaratan Nabi Muhammad SAW setelah menempuh perjalanan Isra dari Mekkah. Sering kali, nama Masjid Al Aqsa digunakan untuk merujuk pada seluruh area kompleks suci, yang memicu kesalahpahaman visual.

Arsitektur dan Ornamen Khas

Dome of the Rock memiliki struktur berbentuk segi delapan dengan kubah berdiameter sekitar 20 meter. Arsitekturnya mendapat pengaruh kuat dari tradisi Bizantium namun dengan karakteristik dekorasi yang sangat berbeda.

Berbeda dengan bangunan Bizantium yang kerap menampilkan sosok makhluk hidup, mosaik di sini didominasi oleh pola tumbuhan, perhiasan, dan kaligrafi ayat Al Quran. Bagian dindingnya dihiasi marmer dan ubin keramik yang memperkuat kemegahan visualnya.

Makna bagi Tiga Agama Samawi

Kawasan tempat berdirinya Kubah Batu memiliki kedudukan sakral bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen. Umat Yahudi meyakini lokasi ini merupakan tempat berdirinya Bait Suci yang dibangun oleh Nabi Sulaiman di masa lampau.

Bagi umat Kristen, Yerusalem adalah kota suci yang berkaitan erat dengan riwayat Yesus Kristus. Setelah jatuh ke tangan Khalifah Umar ibn al-Khattab pada 638 Masehi, kawasan ini berkembang pesat sebagai pusat spiritual dan budaya Islam.

Transformasi dan Restorasi Sepanjang Sejarah

Sejarah mencatat Dome of the Rock pernah dialihfungsikan menjadi gereja dengan nama Templum Domini saat Tentara Salib menguasai Yerusalem pada 1099. Desain uniknya bahkan menginspirasi arsitektur sejumlah gereja di Benua Eropa.

Fungsinya sebagai tempat suci Islam kembali pulih setelah Saladin merebut Yerusalem pada 1187. Pada abad ke-16, Sultan Ottoman Suleiman the Magnificent melakukan pembaruan besar dengan memasang ubin keramik berwarna pada bagian luar bangunan.

Upaya pelestarian terus berlanjut hingga zaman modern, termasuk proses pelapisan ulang kubah emas yang mendapat dukungan dari keluarga kerajaan Hashemite Yordania. Meskipun bukan masjid utama untuk salat berjamaah, Dome of the Rock tetap menjadi simbol spiritualitas yang abadi di jantung Yerusalem.

Artikel terkait

Rekomendasi