Penanganan kasus tumor ganas yang kompleks menempatkan perawat onkologi pada posisi krusial yang jarang disorot masyarakat. Dilansir dari Detik Health, mereka bertugas mendampingi penderita sekaligus menghubungkan tim medis dengan pihak keluarga.
Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI) Dr Kemala Rita Wahidi, SKp, SpKepOnk, ENT, MARS, FISQua menjelaskan perawat onkologi memiliki peran penting sebagai 'jembatan strategis' antara dokter, pasien kanker stadium lanjut, serta keluarga. Peran strategis tersebut dibagi dalam tiga fungsi meliputi translator, navigator, dan advocate.
Fungsi penerjemah dijalankan untuk membimbing dan mengonversi istilah kedokteran yang rumit menjadi penyampaian yang lebih sederhana agar mudah dipahami oleh pihak yang dirawat.
"Translator artinya dia harus bisa menerjemahkan bahasanya dokter, bahasa medis yang disampaikan dokter ke pasien dengan bahasa awamnya pasien," ungkap Dr Kemala ketika berbincang dengan detikcom di acara The 6th Siloam Oncology Summit di Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).
"Karena pasien bukanlah tenaga kesehatan,dia tidak pernah tahu, dan dia tidak pernah belajar menjadi pasien dan tidak pernah tahu tentang penyakitnya. Banyak Istilah-istilah medis yang sangat dia tidak mengerti," sambungnya.
Sementara itu, tugas navigator adalah membantu pihak keluarga untuk mengambil keputusan di tengah ketidakjelasan informasi yang mungkin muncul dan advocate atau menyuarakan pesan pasien ke tenaga medis tanpa mengambil alih keputusan dokter.
Penderita tumor ganas stadium akhir memerlukan pola penanganan yang berbeda dari pasien biasa. Mereka umumnya telah masuk dalam program perawatan paliatif untuk meminimalkan penderitaan fisik maupun psikologis.
"Apalagi pasien dalam kondisi yang advanced, yang end stage seperti itu, pasti sangat berbeda sekali dari segi aspek fisiknya, keluhannya sudah macam-macam, nyerinya luar biasa, apalagi kalau metastase ke tulang, ke otak, ke paru-paru, sesak nafas, dan seterusnya," ungkap Dr Kemala.
Tekanan mental yang dirasakan kelompok ini juga sangat berat, sehingga petugas medis dituntut lebih peka dalam membaca pesan non-verbal yang ditunjukkan.
"Sehingga perawat bisa menanggapi ekspresi yang muncul. Kalau dibandingkan dengan penyakit yang lainnya, peran perawat dalam merawat pasien kanker pasti sangat berbeda,"sambung Dr Kemala.
Manajemen Penyampaian Kabar Buruk
Pemberian informasi mengenai perkembangan penyakit atau hasil pemeriksaan yang kurang baik membutuhkan strategi khusus agar tidak merusak kondisi psikis pihak keluarga.
Dr Kemala menuturkan, pada perawatan pasien kanker advanced, kabar buruk atau bad news terkait diagnosa, prognosa atau juga hasil pengobatan yang kurang baik disampaikan dalam satu tim multi disiplin (multi discipline team /MDT), yang terdiri dari Dokter Penanggung jawab Pasien (DPJP), Perawat Penanggung jawab Pasien (PPJP) dan Psikolog Klinik apabila diperlukan.
Dokter utama memegang tanggung jawab edukasi, sementara perawat bertugas memantau reaksi emosional dari pihak keluarga di dalam ruangan khusus.
"Jadi kita memang harus paham betul, kecuali memang pasiennya sudah siap, dia sudah ingin tahu. Harus ada, ruang edukasi khusus, kita duduk sama-sama dengan pasien," ungkap Dr Kemala.
Proses ini memerlukan komunikasi dua arah yang mengalir pelan, di mana petugas medis disarankan untuk lebih banyak mendengarkan keluh kesah mereka.
"Jadi jangan sampai seperti petir di siang bolong, mereka belum siap, kita sudah menyampaikan, 'apakah ibu sudah siap, kami bolehkah menyampaikan?' Seperti itu kita perlu paham sekali melihat kondisi pasien dan keluarga, jangan menambah masalah yang baru bagi pasien dan keluarga," tambahannya.
Pendampingan Hingga Masa Duka
Pendampingan yang diberikan oleh tenaga kesehatan terus berjalan bahkan hingga masa berkabung bagi keluarga yang selama ini bertindak sebagai perawat utama.
"Kita bisa bayangkan, tiba-tiba hilang. Akan sangat dia sangat berduka dengan proses kehilangan ini. Nah, di situlah kita tetap memberikan penghiburan paling tidak kita bisa kontak atau telepon," cerita Dr Kemala.
Tantangan lain muncul saat pihak keluarga sengaja menyembunyikan status diagnosis asli karena khawatir kondisi mental subjek akan langsung menurun drastis.
Perawat berpengalaman di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Ns Siti Chodijah, SKep menuturkan pasien seharusnya mendapatkan informasi dengan apa adanya.
"Apapun yang terkait dengan dirinya, baik itu terapi yang akan diberikan, atau kondisinya, itu memang harus disampaikan kepada pasien," ucap Siti dalam kesempatan yang sama.
"Memang tadi kita punya strategi-strategi untuk menyampaikan informasi itu kepada pasien dengan bertahap, supaya sampai akhirnya pasien menerima dan kita juga memberi informasi itu bukan sesuatu yang terlalu menyeramkan," tandasnya.
Kolaborasi komprehensif melalui pendekatan multidisiplin ini diterapkan di Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi sebagai pusat rujukan kesehatan tingkat nasional dan regional Asia Tenggara.