Sejumlah perajin tempe rumahan di Jakarta mulai memperkecil ukuran produk mereka akibat lonjakan harga kacang kedelai dan bahan kemasan plastik. Langkah defensif ini diambil untuk mempertahankan kelangsungan usaha yang tertekan biaya produksi tinggi pada April 2026.
Kenaikan harga bahan baku ini dirasakan oleh Anto, seorang perajin tempe di Cilincing, Jakarta Utara, yang mengelola usaha keluarga sejak 1981. Dilansir dari Megapolitan, harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.600 per kilogram kini telah menyentuh angka Rp 10.800 per kilogram.
Beban produksi semakin berat karena harga plastik bening untuk pembungkus juga melonjak drastis dari Rp 35.000 menjadi Rp 55.000 per kilogram. Dengan kebutuhan harian mencapai 100 kilogram kedelai, para produsen kini menghadapi penyusutan margin keuntungan yang signifikan.
"Biasanya harga Rp 10.000 yang panjangnya 80 sentimeter (cm), diperkecil jadi 75 cm," kata Anto, Perajin Tempe.
Anto menjelaskan bahwa strategi mengecilkan ukuran dilakukan agar ia tidak perlu menaikkan harga jual kepada pelanggan di tengah situasi sulit. Namun, ia tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga jika tren kenaikan bahan baku terus berlanjut secara konsisten.
"Berpengaruh sekali kalau cuacanya lagi hujan terus tempe itu susah untuk peragian, tumbuh jamur itu susah," kata Anto, Perajin Tempe.
Selain faktor biaya, ketersediaan air bersih dari PAM yang sering tidak mengalir tepat waktu menjadi kendala tambahan bagi operasional pabriknya. Kondisi cuaca Jakarta yang ekstrem juga kerap memengaruhi kualitas fermentasi jamur pada tempe yang dihasilkan.
"Airnya untuk merebus kedelai. Untuk air kita meggunakan PAM. Kadang-kadang kalau hari-hari tertentu suka tak keluar," tutur Anto, Perajin Tempe.
Merespons situasi ini, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyatakan bahwa harga beli di tingkat pedagang mayoritas masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP).
"Karena secara umum harga beli mereka masih di bawah HAP (Harga Acuan Penjualan). Konsumen juga harus dilindungi," ucap Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta.
Berdasarkan pantauan dinas terhadap 45 perajin di Jakarta, stok kedelai saat ini masih dinyatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi harian. Meskipun ada beberapa pihak yang membeli di atas harga acuan, rata-rata harga masih terkendali menurut pemerintah daerah.
"Walaupun sebagian besar masih sesuai HAP dengan besaran harga rata-rata Rp 10.200 sampai dengan Rp 11.000 per kilogram, untuk ketersediaan kedelai di tingkat perajin secara umum cukup," ungkap Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta.
Dari perspektif ekonomi, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat bahwa kenaikan ini dipicu oleh ketidakstabilan harga energi global. Lonjakan harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya logistik serta harga resin plastik yang digunakan sebagai kemasan.
"Harga energi yang meningkat mendorong kenaikan ongkos logistik dan freight, sementara rantai pasok global masih belum sepenuhnya efisien pasca disrupsi geopolitik," ujar M Rizal Taufikurahman, Pakar Ekonomi Indef.
Kenaikan harga kemasan plastik dinilai sebagai komponen yang sering diabaikan namun memberikan dampak agregat yang besar bagi pelaku UMKM. Kondisi ini menempatkan banyak pengusaha pada titik impas atau break even point akibat dominasi biaya bahan baku yang mencapai 70 persen.
"Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM," ucap M Rizal Taufikurahman, Pakar Ekonomi Indef.
Ekonom tersebut juga menilai fenomena pengecilan ukuran atau shrinkflation sebagai respons yang sangat rasional bagi para produsen untuk menjaga arus kas. Penyesuaian secara agresif sulit dilakukan mengingat tempe adalah kebutuhan pokok dengan elastisitas permintaan yang cukup tinggi di masyarakat.
"Praktik shrinkfation atau inflasi terselubung melalui penyusutan ukuran tempe tanpa menaikkan harga secara signifikan menjadi strategi utama," jelas M Rizal Taufikurahman, Pakar Ekonomi Indef.