KAI Commuter melakukan investigasi mendalam terkait dua insiden berbeda yang melibatkan rangkaian KRL di perlintasan Tambun dan Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa tersebut menyebabkan 14 orang meninggal dunia hingga Selasa pagi akibat tabrakan kereta jarak jauh dengan Commuter Line.
Dilansir dari Megapolitan, insiden pertama bermula saat sebuah rangkaian KRL menabrak satu unit taksi di perlintasan kereta wilayah Tambun. Tak lama berselang, kecelakaan kedua terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 yang melibatkan KRL nomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa kedua kejadian tersebut melibatkan rangkaian kereta yang berbeda meskipun berada di lintas yang sama. Fokus penanganan awal dilakukan pada insiden KRL yang menabrak kendaraan roda empat di depan rangkaian lainnya.
"Jadi ada dua peristiwa yang berbeda. Ada kondisi KRL kami yang menemper (menabrak) taksi ya, menemper (menabrak) kendaraan roda empat di pelintasan (kereta)," ujar Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa posisi KRL yang menabrak taksi berada tepat di depan rangkaian KRL yang kemudian tertabrak oleh kereta jarak jauh relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi tersebut.
"Dan yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur ini adalah insiden operasional antara KRL yang berbeda dengan kereta jarak jauh," kata Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Seluruh rangkaian yang terlibat diketahui bergerak searah menuju tujuan akhir yang sama di Cikarang. KRL yang tertabrak KA Argo Bromo Anggrek diketahui berangkat dari Kampung Bandan, sementara kereta jarak jauh bertolak dari Stasiun Gambir.
"Jadi memang searah semua," tegas Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Manajemen saat ini sedang meneliti apakah hambatan perjalanan akibat kecelakaan taksi di Tambun memicu terjadinya tabrakan susulan di Stasiun Bekasi Timur. Rangkaian KRL yang menabrak taksi dipastikan berada pada posisi paling depan dan telah mendapat penanganan terlebih dahulu.
"Itu ada di depannya," tutur Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Pemeriksaan teknis terus berlanjut guna memastikan penyebab pasti kecelakaan fatal yang merenggut nyawa belasan penumpang tersebut.
"Sudah. Penanganannya sudah dilakukan terlebih dahulu," lanjut Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Pihak berwenang termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah diterjunkan ke lapangan untuk mengumpulkan bukti dan keterangan saksi terkait korelasi antar-insiden.
"Aakah ada korelasi antara insiden yang temperan dengan taksi dengan insiden yang terjadi di Bekasi Timur, itu masih dalam investigasi," jelas Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Hasil resmi mengenai penyebab kecelakaan akan diumumkan setelah seluruh proses pemeriksaan di lokasi kejadian dinyatakan tuntas oleh tim ahli.
"Pastinya dari KNKT gitu ya, maupun pihak berwenang akan mengeluarkan statement setelah proses investigasinya selesai," lanjut Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Ketua Tim Humas KNKT, Anggo Anurogo, memberikan konfirmasi bahwa timnya telah memulai pengumpulan data primer di lokasi kejadian. Namun, belum ada simpulan awal yang bisa dibagikan kepada publik terkait kronologi detail peristiwa.
"Masih dalam proses awal investigasi. Belum ada perkembangan yang bisa kami share untuk saat ini," ujar Anggo Anurogo, Ketua Tim Humas KNKT.
Data dari Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebutkan jumlah korban jiwa mencapai 14 penumpang KRL hingga pukul 08.45 WIB hari Selasa. Sementara itu, sebanyak 240 penumpang yang berada di dalam rangkaian KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan dalam kondisi selamat tanpa luka.
Seluruh korban luka saat ini telah dievakuasi ke delapan rumah sakit di wilayah Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Primaya, dan RS Siloam Bekasi Timur untuk mendapatkan penanganan medis intensif.