Astronom Ungkap Penyebab Planet Sub-Neptunus Jarang Ditemukan di Katai Merah

Astronom Ungkap Penyebab Planet Sub-Neptunus Jarang Ditemukan di Katai Merah
Foto: Ilustrasi Astronom Ungkap Penyebab Planet Sub-Neptunus Jarang Ditemukan di Katai Merah.

Planet sub-Neptunus menjadi salah satu jenis eksoplanet yang paling mendominasi di galaksi Bima Sakti. Ukuran eksoplanet ini berada di antara ukuran Bumi dan Neptunus, dengan radius sekitar dua hingga empat kali radius planet kita.

Eksoplanet ini sering ditemukan mengorbit bintang yang serupa dengan Matahari. Namun, dilansir dari Media Indonesia, para astronom menemukan sebuah keanehan saat melakukan pengamatan pada bintang kecil atau katai merah.

Planet sub-Neptunus ternyata sangat jarang dijumpai di sekitar bintang jenis katai merah. Fenomena tersebut menarik perhatian besar para ilmuwan karena katai merah merupakan jenis bintang dengan jumlah paling banyak di galaksi.

Data dari teleskop pemburu eksoplanet seperti Kepler dan TESS menunjukkan jumlah sub-Neptunus di sekitar katai merah jauh lebih sedikit daripada estimasi semula. Sejumlah riset terbaru menunjukkan bahwa radiasi kuat dari bintang katai merah menjadi pemicu utamanya.

Bintang kecil ini memiliki aktivitas magnetik yang sangat tinggi pada fase awal kehidupannya dan memancarkan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar. Paparan ekstrem ini lambat laun mengikis atmosfer tebal milik planet yang mengorbit terlalu dekat.

Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai atmospheric mass loss atau penguapan atmosfer planet. Planet sub-Neptunus yang semula diselimuti lapisan gas tebal kehilangan atmosfernya akibat radiasi ekstrem tersebut.

Penguapan atmosfer ini menyisakan inti planet berbatu yang berukuran lebih kecil. Perubahan bentuk tersebut membuat objek antariksa ini menjadi sulit dikenali lagi sebagai planet sub-Neptunus.

Para astronom juga mengidentifikasi sebuah wilayah unik bernama "Neptunian Desert". Wilayah orbit yang berada dekat dengan bintang ini tercatat hampir tidak memiliki planet sub-Neptunus.

Kawasan sepi ini diduga tercipta karena mayoritas planet tidak mampu bertahan dari suhu panas dan paparan radiasi yang tinggi. Meski demikian, para ilmuwan sempat menemukan satu pengecualian yaitu planet NGTS-4b.

Planet NGTS-4b dilaporkan sukses bertahan hidup di tengah wilayah ekstrem tersebut. Ilmuwan memprediksi planet ini mempunyai inti yang sangat padat atau baru berpindah orbit setelah intensitas radiasi bintang induknya mulai melemah.

Penelitian lain pada sistem planet di sekitar katai merah menunjukkan beberapa sub-Neptunus yang selamat kemungkinan memiliki karakteristik khusus. Planet-planet tersebut diprediksi mempunyai atmosfer yang sangat tebal atau lapisan es di bawah permukaannya.

Studi mengenai eksoplanet sub-Neptunus ini memegang peran krusial dalam misi pencarian planet layak huni di masa depan. Pemahaman tentang proses bertahannya atmosfer dari radiasi bintang membantu astronom memetakan sistem planet yang berpotensi mendukung kehidupan.

Artikel terkait

Rekomendasi