Usulan pemindahan gerbong khusus wanita dari ujung rangkaian ke bagian tengah KRL mendapat penolakan dari sejumlah penumpang perempuan. Kebijakan ini dinilai tidak efektif untuk menjamin keselamatan penumpang selama perjalanan.
Dilansir dari Megapolitan, Eva (27), seorang pengguna KRL lintas Blue Line BekasiÔÇôJakarta, menganggap perubahan posisi gerbong bukan solusi utama mencegah jatuhnya korban kecelakaan.
"Karena yang diinginkan kan jangan sampai ada korban. Bukan berarti kalau di tengah bisa lepas dari suatu peristiwa," ujar Eva saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (30/4/2026).
Eva menjelaskan bahwa posisi gerbong di ujung depan dan belakang saat ini sudah ideal. Jika dipindahkan ke tengah, ia khawatir akan terjadi penumpukan karena penumpang laki-laki akan sering berlalu-lalang melewati area tersebut.
"Jadi berimpitan sama laki-laki. Nanti mereka banyak lalu-lalang buat mencari gerbong campur di mana," tutur Eva.
Menurutnya, solusi yang lebih tepat adalah menambah kuantitas gerbong khusus, misalnya dengan menyisipkan dua gerbong tambahan di tengah rangkaian tanpa menghilangkan gerbong di ujung.
Meskipun merasa waswas pascakecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Eva mengaku tetap sering menggunakan gerbong campuran jika kondisinya memungkinkan.
"Pasti ada perasaan was-was ya akibat kejadian kecelakaan kemarin, tapi kalau trauma tidak. Karena jujur sehari-hari memang jarang di gerbong perempuan," kata Eva.
"Kecuali lagi buru-buru dan di gerbong campur dalam kondisi padat baru aku naiknya di gerbong perempuan. Jadi selama di gerbong campur ada space atau lowong naiknya selalu di situ," ujar Eva.
Putri (34), penumpang rutin Red Line rute Bogor-Jakarta Kota, juga sepakat bahwa posisi di ujung rangkaian memudahkan penumpang perempuan untuk berkumpul dan menemukan gerbong mereka.
"Kalau posisinya nanti di tengah atau di gerbong nomor berapa itu nungguinnya tuh menurut aku akan susah juga," kata Putri.
Putri tetap memilih gerbong wanita karena faktor kenyamanan meskipun terjadi insiden tragis di Bekasi Timur baru-baru ini.
"Yang aku percaya itu, di manapun posisinya kalau memang udah saatnya takdir meninggal ya akan meninggal di mana tempatnya kamu duduk," ujar Putri.
"Aku enggak menghindari juga pilih tempat duduk di gerbong perempuan. Karena aku lebih suka yang di gerbong perempuan," tutur Putri.
Ia juga menekankan bahwa jaminan keamanan adalah hak seluruh penumpang tanpa memandang gender, karena setiap orang dinanti oleh keluarganya di rumah.
"Bukan cuma perempuan saja yang keselamatannya ditunggu keluarga, keluarga juga butuh kepastian keselamatan, keamanan bagi suaminya, adik laki-lakinya, kakak laki-lakinya, pamannya, ayahnya," kata Putri.
"Jadi enggak pas lah usulan gerbong perempuan dipindahkan ke gerbong laki-laki, laki-laki dipindah di gerbong depan dan belakang," ujar Putri.
Fokus pada Perbaikan Teknis
Para penumpang mendesak pihak otoritas untuk lebih fokus mengevaluasi aspek teknis seperti sistem persinyalan dan sterilisasi perlintasan sebidang daripada sekadar memindah posisi gerbong.
Mia (31), pengguna Green Line, menyebut usulan pemindahan tersebut kurang tepat dan menyarankan penambahan frekuensi perjalanan kereta untuk mengurangi kepadatan.
"Itu pernyataan konyol. Memangnya, laki-laki enggak boleh selamat? Yang justru perlu diperhatikan itu nambah gerbong atau jumlah kereta (KRL)," kata Mia.
Ia menyoroti pentingnya pembangunan flyover atau penjagaan ketat di perlintasan sebidang untuk mencegah kecelakaan fatal kembali terulang.
"Lintasan sebidang ini harus diamankan. Misalnya dijaga atau dibikin flyover. Kan konsep kereta di dalam regulasi itu, jalannya kereta tidak bisa dihalangi, atau dengan kata lain jalurnya steril," ujar Mia.
"Kedua, masyarakat harus paham sih bahwa seburu-burunya kita jangan nyelonong perlintasan sebidang yang sudah ada sinyal kereta," tutur Mia.
Danti (25), pengguna rute Tangerang, mengkhawatirkan pemindahan gerbong ke tengah justru seolah mengabaikan keselamatan penumpang laki-laki yang dipindah ke posisi ujung.
"Kalau dipindah ke tengah, kenapa jadi kesannya menumbalkan keselamatan laki-laki? Kalau kecelakaan serupa kejadian lagi, bakal sama saja ada korban," ujar Danti.
"Sistem perkeretaapiannya atuh yang dibenahin, sama kesadaran para pengendara deh buat jangan nerobos palang," tutur Danti.
Latar Belakang Usulan Pemerintah
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, sebelumnya mengusulkan penataan ulang posisi gerbong setelah insiden di Stasiun Bekasi Timur yang menelan korban jiwa.
Kecelakaan pada Senin (27/4/2026) malam yang melibatkan KRL Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut menyebabkan 16 penumpang perempuan meninggal dunia.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah," ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Arifah berpendapat bahwa posisi ujung memiliki risiko benturan yang lebih besar saat terjadi kecelakaan, sehingga kelompok rentan perlu ditempatkan di bagian tengah yang dianggap lebih aman.
"Tadi kalau kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," kata Arifah.