Tiga Penumpang Kapal MV Hondius Tewas Diduga Akibat Hantavirus

Tiga Penumpang Kapal MV Hondius Tewas Diduga Akibat Hantavirus
Foto: Ilustrasi Tiga Penumpang Kapal MV Hondius Tewas Diduga Akibat Hantavirus.

Kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memicu kekhawatiran publik setelah diduga terinfeksi hantavirus sejak Maret 2026. Peristiwa tragis ini menjadi sorotan global mengingat sifat virus yang jarang namun mematikan.

Kapal yang dioperasikan Oceanwide Expeditions tersebut membawa sekitar 150 hingga 170 penumpang saat berangkat dari Ushuaia, Argentina. Dilansir dari Suara, pelayaran ini melewati rute Antartika dan Kepulauan Falkland sebelum menuju Cape Verde.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa korban jiwa mencakup pasangan suami-istri asal Belanda yang berusia 70 dan 69 tahun, serta satu individu lainnya. Hingga saat ini, otoritas kesehatan masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus tersebut.

Hasil uji laboratorium telah mengonfirmasi setidaknya satu hingga dua kasus positif hantavirus. Sementara itu, satu penumpang lainnya masih menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan setelah dilakukan evakuasi medis dari kapal berbendera Belanda tersebut.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Penularan kepada manusia umumnya terjadi ketika seseorang menghirup aerosol dari urine, feses, atau air liur tikus yang telah terkontaminasi virus.

Berbeda dengan virus pernapasan pada umumnya, hantavirus tidak menyebar antarmanusia dengan mudah. Infeksi ini dapat berkembang menjadi sindrom paru hantavirus (HPS) atau sindrom demam berdarah dengan gagal ginjal (HFRS) yang memiliki tingkat kematian mencapai 30-40 persen.

Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot, pusing, hingga sesak napas. Masa inkubasi virus ini biasanya berlangsung antara satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar kotoran hewan pengerat.

Situasi dan Risiko Hantavirus di Indonesia

Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai wabah hantavirus di Indonesia yang berkaitan dengan insiden kapal MV Hondius. Risiko penyebaran dari kapal tersebut dinilai sangat rendah karena lokasi kejadian yang jauh dan sifat penularannya yang bukan antarmanusia.

Meski demikian, Indonesia mencatat sejarah kasus hantavirus tipe HFRS pada pertengahan 2025. Kementerian Kesehatan melaporkan delapan kasus yang tersebar di Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, meski seluruh pasien berhasil sembuh.

Kementerian Kesehatan terus memantau potensi penyakit emerging melalui surveilans epidemiologi di seluruh wilayah. Populasi tikus yang tinggi di beberapa daerah serta sanitasi yang belum merata menjadi faktor risiko lokal yang tetap diwaspadai oleh pemerintah.

Langkah Pencegahan dan Kebersihan Lingkungan

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan tempat tinggal agar tidak menjadi sarang hewan pengerat. Menutup celah masuk tikus dan menyimpan bahan makanan dalam wadah tertutup menjadi langkah preventif yang krusial.

Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, warga disarankan membasahi area tersebut dengan disinfektan terlebih dahulu. Penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan guna mencegah terhirupnya partikel virus yang beterbangan di udara.

Pemerintah menegaskan bahwa meskipun hantavirus mematikan, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Fokus utama saat ini adalah memastikan lingkungan tetap bersih dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah kontak dengan hewan pengerat.

Artikel terkait

Rekomendasi