Insiden penyakit kanker ginjal pada pria secara global dilaporkan mengalami lonjakan hingga mencapai angka 4,8 persen dibandingkan jenis kanker lainnya berdasarkan data terbaru GLOBOCAN yang dirilis pada Rabu (15/4/2026).
Tren peningkatan ini menempatkan kanker ginjal pada posisi ketujuh sebagai jenis kanker yang paling banyak diidap oleh kelompok laki-laki di seluruh dunia. Dilansir dari Detik Health, terdapat pergeseran tren usia di mana pengidap kini cenderung berasal dari kalangan yang lebih muda.
Dokter Spesialis Urologi dari FK-KMK UGM, Dr. dr. Ahmad Zulfan Hendri, SpU(K), menjelaskan bahwa penyakit ini berkembang dari sel jernih atau tumor transparan. Meskipun penyebab pastinya belum teridentifikasi secara medis, pola gaya hidup yang tidak sehat dinilai menjadi faktor pemicu utama kemunculan sel kanker tersebut.
Risiko genetik juga memperparah potensi persebaran penyakit ini, di mana seseorang dengan riwayat keluarga kanker ginjal memiliki risiko dua kali lipat lebih besar untuk terpapar. Selain faktor keturunan, individu yang menderita gangguan fungsi ginjal kronis masuk dalam kategori kelompok rentan.
Minimnya gejala khas pada stadium awal sering kali membuat pasien terlambat mendapatkan penanganan medis. Beberapa tanda yang baru muncul saat memasuki stadium menengah meliputi adanya darah pada urine, benjolan di area pinggang, hingga rasa pegal yang sering disalahpahami sebagai kelelahan fisik biasa.
"Kanker ini memang tidak menunjukkan gejala yang khas di awal, tetapi di sinilah masyarakat sering luput. Mereka datang saat kanker sudah tahap lanjut dan parah, akibatnya harapan hidupnya juga lebih rendah," kata Dr. dr. Ahmad Zulfan Hendri, SpU(K).
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat terutama kelompok berisiko disarankan melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau medical check-up secara rutin minimal setahun sekali. Tindakan operasi pengangkatan masih menjadi solusi kuratif utama apabila tumor terdeteksi dini dengan ukuran di bawah 7 cm.
Penanganan medis pada kanker yang sudah menyebar akan difokuskan pada upaya menekan persebaran sel guna memperpanjang usia harapan hidup pasien. Dr. Ahmad menegaskan bahwa kanker bersifat semi-darurat sehingga konsistensi kontrol medis sangat menentukan keberhasilan pengobatan.