Pasar Burung Jatinegara di Jakarta Timur menjadi pusat aktivitas bagi warga yang mencari hiburan alternatif dan edukasi satwa pada Kamis (30/4/2026). Kawasan ini tetap eksis sebagai ruang sosial bagi para penghobi burung kicau di tengah maraknya pusat perbelanjaan modern di Jakarta.
Para pengunjung yang datang tidak selalu bertujuan untuk melakukan transaksi jual beli. Berdasarkan pantauan di lokasi, interaksi antara pedagang dan pembeli menciptakan hubungan sosial yang menjadikan pasar ini sebagai tempat belajar mengenai perawatan berbagai jenis unggas, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Nuno, warga Matraman, menjelaskan bahwa kunjungannya sering kali hanya untuk membandingkan kualitas dan harga tanpa harus melakukan pembelian.
"Saya kalau ke sini sebenarnya enggak selalu beli, kadang cuma lihat-lihat aja. Tapi enaknya di sini pilihannya banyak, dari burung kecil sampai yang harganya lumayan tinggi juga ada. Jadi kita bisa bandingin kualitas sama harga," kata Nuno saat ditemui Kompas.com di Pasar Burung Jatinegara, Kamis (30/4/2026).
Nuno menambahkan bahwa para pedagang di kawasan tersebut bersikap terbuka dan memberikan penjelasan mendetail mengenai teknis pemeliharaan hewan.
"Pedagangnya juga ramah, kita bisa tanya-tanya soal perawatan, pakan yang cocok, atau cara adaptasi burung baru. Mereka biasanya jelasin cukup detail," ujar dia.
Suasana hiruk-pikuk dan suara kicauan burung menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta satwa sebagai sarana penyegaran pikiran di tengah rutinitas harian.
"Kalau saya, datang ke sini itu kayak refreshing juga. Banyak suara burung, ramai tapi tetap seru. Buat pecinta burung ya ini tempat yang pas," kata Nuno.
Ferdi, seorang penghobi asal Jakarta Selatan, memanfaatkan pasar ini sebagai wadah untuk bertemu dengan rekan sekomunitas guna berbagi informasi terkini.
"Saya hobi burung kicau, jadi kalau lagi senggang suka main ke sini. Saya suka karena jenis burungnya beragam, dari murai, kenari, sampai lovebird banyak," kata Ferdi.
Ia menyoroti pentingnya keberadaan ruang publik seperti pasar tradisional ini untuk memelihara silaturahmi antarwarga yang memiliki kegemaran serupa.
"Menurut saya pasar burung itu bukan cuma tempat jual beli, tapi juga tempat silaturahmi. Orang-orang datang bukan cuma transaksi, tapi juga buat sharing," kata dia.
Aspek keamanan dalam melihat kondisi fisik satwa secara langsung juga menjadi alasan pengunjung tetap memilih pasar konvensional dibandingkan sistem daring.
"Kami sengaja ke sini karena lebih lengkap. Kalau beli online kadang enggak sesuai, tapi kalau ke sini kita bisa lihat langsung kondisi burungnya sehat atau enggak," ujar Sari, warga Bekasi.
Sari menilai fleksibilitas harga melalui proses negosiasi menjadi nilai tambah bagi pembeli yang memiliki keterbatasan dana.
"Harganya banyak pilihan. Kalau budget kita terbatas tetap bisa dapat burung yang bagus. Bisa nego juga, jadi lebih enak," ucap dia.
Di sisi lain, orang tua memanfaatkan keragaman jenis burung di Jatinegara sebagai media pengenalan fauna kepada anak-anak.
"Saya ajak anak ke sini biar dia lihat langsung. Dia kan suka hewan, jadi sekalian jalan-jalan edukasi juga. Daripada main gadget terus," kata Yuni, warga Cipinang.
Menurutnya, antusiasme anak-anak meningkat saat melihat keragaman warna dan jenis burung yang dipajang di sepanjang lorong pasar.
"Di sini lengkap banget. Burungnya banyak, jenisnya macem-macem. Anak saya jadi antusias, tadi dia nanya-nanya terus soal burung yang warna-warni," ujar dia.
Meskipun belum berencana membeli pada hari tersebut, Yuni merasa kunjungan itu memberikan pengalaman rekreatif yang berkesan.
"Anak saya seneng banget karena bisa lihat burung dari dekat. Katanya nanti pengin ke sini lagi. Menurut saya ini tempat yang bagus buat hiburan keluarga juga," tutur dia.
Pedagang di pasar tersebut, Ari, menyatakan bahwa dirinya telah berdagang selama puluhan tahun dan melayani permintaan untuk kebutuhan lomba.
"Sudah, puluhan tahun," kata Ari (30) saat ditemui di lapaknya.
Ari menjelaskan bahwa jenis burung yang dijual sangat bervariasi dengan ukuran terkecil adalah burung pleci.
"Yang paling kecil ini pleci," ujarnya sambil menunjuk sangkar kecil.
Ia juga memaparkan struktur harga burung yang sangat bergantung pada kualitas kicauan dan kondisi fisiknya.
"Yang biasa sekitar Rp 150 ribu, yang bagus bisa sampai Rp 400 ribu," kata Ari.
Pengelola kios Kalista Pet, Riski, menambahkan bahwa stok burung yang tersedia mencakup jenis burung hantu hingga parkit Australia yang berasal dari penangkaran.
"Macam-macam. Ada parkit Australia, burung hantu, lovebird, perkutut, dan lain-lain," kata Riski di lapaknya.
Riski memberikan jaminan bahwa mayoritas unggas yang diperdagangkan bukan merupakan hasil tangkapan liar dari alam.
"Kebanyakan dari Solo, hasil ternakan. Bukan tangkapan liar," ujar dia.
Terkait perawatan burung hantu, ia memberikan catatan khusus mengenai tingkat kesulitan dan risiko predator bagi jenis burung lain.
"Kurang lebih sama, tapi lebih susah. Harus lebih hati-hati dan tidak bisa disatukan dengan burung lain karena bisa dimakan," kata Riski.
Ia juga menyebutkan bahwa harga burung bisa melambung tinggi jika memiliki kemampuan unik atau warna bulu yang langka.
"Biasanya dari warna. Semakin langka warnanya, semakin mahal," ujar dia.
Mengenai kondisi pasar saat ini, Riski mengakui adanya penurunan kepadatan pengunjung jika dibandingkan dengan masa lalu.
"Sekarang lebih ramai saat weekend saja. Hari biasa cenderung sepi," kata dia.
Kios yang dikelolanya juga menyediakan berbagai perlengkapan pendukung yang sering dicari oleh pembeli setia.
"Sudah tidak seramai dulu. Dulu sampai penuh ke belakang, sekarang berkurang," ujar dia.
Stok burung yang tersedia di satu kios bisa mencapai ratusan ekor, yang disertai dengan ketersediaan vitamin serta pakan khusus.
"Ada. Banyak juga yang beli pakan saja," ujar Riski.
Koordinator Komunitas Pengamat Burung Urban Jakarta, Ady Kristanto, menyatakan tren lomba kicau masih menjadi penggerak utama permintaan pasar.
"Saat ini menurut saya masih tinggi karena, berkaca dari kegiatan lomba burung kicau yang masih sering berlangsung," kata Ady saat dihubungi.
Ady merinci bahwa burung-burung di pasar sering dicari sebagai pengisi suara atau 'masteran' untuk melatih burung lomba.
"Nah Murai batu ini biar suaranya oke harus diisi oleh suara burung lain. Orang-orang biasanya mencari atau membeli burung masteran di pasar burung," ujar dia.
Pembangunan aviary pribadi di rumah tinggal juga turut berkontribusi pada stabilitas angka penjualan di pasar tersebut.
"Sehingga permintaan burung untuk mengisi aviary pribadi tersebut masih banyak dibeli dari pasar burung," kata Ady.
Meskipun demikian, ia memberikan catatan kritis mengenai adanya oknum yang menjual satwa hasil tangkapan liar di taman kota.
"Kami mengamati satwa di alam, mereka adalah orang-orang yang menikmati burung di dalam sangkar," ujarnya.
Ady menyoroti keraguan terhadap klaim hasil penangkaran yang sering disampaikan oleh para pedagang di lapangan.
"Banyak oknum yang tidak jujur di mana mereka bilang hasil breeding, padahal aslinya adalah tangkapan burung di alam," katanya.
Ia pun mengenang masa lalunya yang sering mengunjungi pasar burung untuk kepentingan studi identifikasi jenis satwa.
"Kalau pribadi saya dulu sering ke pasar burung pramuka untuk belajar identifikasi burung-burung yang di sangkar," ujarnya.
Ady menekankan pentingnya kejujuran dari para pelaku usaha mengenai asal-usul satwa yang diperjualbelikan kepada masyarakat.
"Harapan dari kami adalah kejujuran terkait sumber satwa yang dijual," ujarnya.
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BKSDA Jakarta, Marwan Shofa, menegaskan pihaknya terus memantau peredaran satwa sesuai regulasi.
"Terkait aktivitas perdagangan burung di Pasar Burung Jatinegara, BKSDA melaksanakan pengawasan dan implementasi peraturan perundang-undangan di bidang tumbuhan dan satwa liar," kata Marwan.
Sinergi dengan pengelola pasar dilakukan untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum terkait perdagangan satwa yang dilindungi.
"Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan pengelola pasar, yaitu PD Pasar Jaya, serta paguyuban pedagang burung," ujar dia.
Fungsi edukasi di pasar burung juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan kehutanan.
"Hal ini menunjukkan bahwa pasar juga dapat menjadi ruang kolaborasi edukasi terkait kesehatan satwa, kesehatan lingkungan, dan perdagangan satwa yang bertanggung jawab," kata Marwan.
Tindakan tegas diambil dengan melakukan penyitaan jika ditemukan perdagangan jenis burung yang dilarang oleh undang-undang.
"Satwa diamankan dan dititiprawatkan di PPS Tegal Alur untuk penanganan lebih lanjut," ujarnya.
Marwan mengapresiasi perubahan perilaku pedagang yang kini lebih selektif terhadap asal-usul burung yang mereka jual.
"Khususnya dengan tidak memperjualbelikan atau memelihara jenis burung yang dilindungi," kata Marwan.
Dialog yang terbangun antara pihak berwenang dan pelaku pasar dianggap menjadi kunci dalam penyamaan persepsi mengenai aturan konservasi.
"Ini menjadi ruang dialog yang positif untuk menyamakan persepsi terkait aturan yang berlaku," ujarnya.
Penguatan pengawasan tetap menjadi agenda berkelanjutan guna memastikan keberlangsungan ekosistem dan kepatuhan hukum di Pasar Burung Jatinegara.
"Baik melalui edukasi, pengawasan, maupun sinergi dengan seluruh pihak terkait," kata dia.