Pengamat Nilai Wacana Pemindahan Gerbong Wanita KRL Tidak Relevan

Pengamat Nilai Wacana Pemindahan Gerbong Wanita KRL Tidak Relevan
Foto: Ilustrasi Pengamat Nilai Wacana Pemindahan Gerbong Wanita KRL Tidak Relevan.

Pengamat perkeretaapian Joni Martinus mengkritik usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, terkait pemindahan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian Commuter Line karena dinilai tidak efektif bagi keselamatan operasional.

Kritik tersebut muncul setelah adanya wacana untuk menggeser posisi gerbong khusus yang selama ini berada di ujung rangkaian, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Kebijakan ini dianggap berisiko memicu kepadatan penumpang serta kebingungan di area stasiun.

"Jika gerbong khusus wanita ditempatkan di tengah, penumpang pria berpotensi melintas di gerbong tersebut untuk menuju gerbong lain. Selain itu, penumpang juga akan kesulitan menentukan posisi gerbong saat kereta tiba di stasiun," ujarnya Joni Martinus, Pengamat Perkeretaapian.

Situasi ini diprediksi akan menciptakan tekanan massa yang lebih besar di area peron tengah saat penumpang mencoba masuk ke dalam kereta. Kondisi tersebut dinilai akan sangat menyulitkan kelompok rentan seperti ibu hamil, lanjut usia, dan orang tua yang membawa anak kecil.

Joni Martinus menekankan bahwa aspek keselamatan di transportasi publik tidak didasarkan pada gender penumpang. Menurutnya, penempatan gerbong wanita di ujung rangkaian saat ini sudah tepat karena memudahkan akses tanpa harus menembus kerumunan di tengah peron.

"Aspek keselamatan dan layanan transportasi kereta api berlaku setara. Baik pria maupun wanita harus mendapatkan pelayanan yang baik dan selamat sampai tujuan," jelas Joni Martinus, Pengamat Perkeretaapian.

Lebih lanjut, keberhasilan sistem keselamatan kereta api disebut bergantung pada integrasi infrastruktur, keandalan sarana, hingga profesionalisme sumber daya manusia. Hal tersebut dianggap lebih krusial daripada sekadar mengubah tata letak gerbong tambahan.

"Sinergi dari seluruh komponen tersebut akan membentuk sistem keselamatan yang kokoh dan dapat diandalkan," tambahnya Joni Martinus, Pengamat Perkeretaapian.

Dalam pandangannya, pengawasan terhadap tindakan kriminal dan pelecehan seksual justru lebih optimal dilakukan ketika gerbong khusus berada di posisi paling depan atau belakang. Posisi ini memungkinkan petugas keamanan untuk melakukan pemantauan secara lebih terfokus.

"Pemerintah, operator, dan masyarakat harus bekerja sama menciptakan lingkungan perkeretaapian yang aman. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama," tutup Joni Martinus, Pengamat Perkeretaapian.

Artikel terkait

Rekomendasi