Cang Adus Bagikan Pengalaman Sembelih Sapi Sultan Brunei Darussalam

Cang Adus Bagikan Pengalaman Sembelih Sapi Sultan Brunei Darussalam
Foto: Ilustrasi Cang Adus Bagikan Pengalaman Sembelih Sapi Sultan Brunei Darussalam.

Cang Adus Salim, juru sembelih asal Jakarta Selatan, memberikan edukasi penanganan karkas sapi kepada peserta pelatihan Juru Sembelih Halal di Tangerang Selatan, Kamis (14/5/2026). Pengalaman internasionalnya mencuat setelah menangani ratusan hewan kurban milik Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, dilansir dari Megapolitan.

Kesempatan bekerja di luar negeri tersebut diperoleh Adus saat Brunei Darussalam mengalami kekurangan tenaga kerja penyembelih di tengah pembatasan pandemi pada tahun 2021. Pria berusia 49 tahun ini berhasil lolos seleksi ketat yang dilakukan secara daring melalui grup WhatsApp.

"Di Brunei itu 2021 masa Covid. Mereka kesulitan untuk mengambil tenaga kerja baru karena mereka akan menghadapi Idul Adha 2021. Mereka punya PR 400 ekor milik Sultan Hassanal Bolkiah," kata Cang Adus kepada Kompas.com.

Proses rekrutmen tersebut mengedepankan kemampuan teknis pemotongan serta kemahiran berbahasa Inggris. Dari puluhan kandidat yang mendaftar, hanya sedikit peserta yang berhasil terpilih untuk berangkat ke Brunei.

"Lalu saya memberanikan diri mensubmit persyaratan mereka. Dan interviewnya semuanya by online," ujar Adus.

Adus menjelaskan bahwa seleksi tersebut sangat kompetitif dengan standar kualifikasi yang tinggi bagi para calon pekerja. Keahlian spesifik mengenai anatomi sapi menjadi poin krusial dalam penilaian tim penguji.

"Alhamdulillah dari 80 orang yang diinterview, lolos hanya 4. Dan saya orang pertama yang lolos," kata Adus.

Motivasi Adus mendalami profesi ini berawal dari pengamatannya terhadap praktik penyembelihan di lingkungan sekitar yang dinilai kurang memenuhi standar adab. Ia merasa prihatin dengan perilaku penyembelih yang tidak memperhatikan kebersihan dan tata krama terhadap hewan.

"Contoh, saya pernah melihat di sebuah RPH, menyembeli itu dengan kondisi rokok masih ada tersumpal di mulut," tutur Adus.

Kondisi tersebut mendorongnya untuk serius mempelajari syariat dan teknik penyembelihan yang benar. Ia menyoroti aspek penampilan dan perlakuan terhadap hewan kurban yang sering kali terabaikan oleh masyarakat umum.

"Nah di situlah ketertarikan saya untuk mendalami ilmu juru sembelih halal," ujar Cang Adus.

Bekal pelatihan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangerang Selatan dan organisasi Juleha Indonesia menjadi modal utamanya saat bekerja di negara tetangga tersebut. Selama di Brunei, ia mendalami teknik pemisahan daging premium di rumah potong modern.

"Alhamdulillah dengan bekal itu, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja sebagai halal slaughter dan halal butcher di negara Brunei Darussalam," katanya.

Adus memaparkan bahwa profesi butcher menuntut pemahaman mendalam mengenai anatomi tubuh hewan. Hal ini sangat penting untuk menghasilkan potongan daging yang sesuai dengan kebutuhan pasar kuliner.

"Butcher adalah sebuah keilmuan tentang anatomi daging," ucap Adus.

Setiap bagian daging sapi memiliki klasifikasi tersendiri, mulai dari bagian khas dalam hingga area tulang rusuk. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan setiap bagian tersebut bergantung pada jenis hidangan yang akan dibuat.

"Untuk steak tadi ada khas dalam, khas luar, sirloin steak, tenderloin steak, bahkan T-bone steak," ujarnya.

Lingkungan kerja di Brunei memberikan pengalaman berharga bagi Adus dalam mengenal sistem operasional pabrik yang terstruktur. Metode yang digunakan mengikuti standar internasional yang efisien.

"Di sana sudah metodenya pabrik. Semua sistemnya sudah tersusun," kata Adus.

Dalam hal teknis menyembelih, Adus lebih memilih menggunakan pisau daripada golok tradisional untuk menjaga presisi dan kecepatan. Penggunaan pisau dinilai mampu memfokuskan tenaga sehingga proses mematikan hewan berlangsung lebih cepat.

"Saya pernah potong sapi limosin 1 ton up itu pakai pisau," kata Adus.

Efisiensi waktu dalam penyembelihan sangat ditekankan untuk meminimalisir rasa sakit pada hewan. Adus mengeklaim bahwa proses yang ideal hanya berlangsung dalam hitungan detik saja.

"Menyembelih itu hanya butuh 3 detik, untuk selesai penyembelihan," ujar Adus.

Penggunaan alat yang tidak tajam disebutnya sangat berbahaya karena bisa memicu perlawanan dari hewan kurban. Hal ini berisiko mencederai petugas yang berada di lokasi penyembelihan.

"Itu bisa melukai orang lain," katanya.

Prinsip utama yang ia pegang adalah aspek ihsan atau berbuat baik kepada hewan dalam setiap proses penyembelihan. Ia menekankan bahwa keahlian yang memadai adalah syarat mutlak bagi setiap juru sembelih.

"Hewan kurban adalah titipan. Mestinya ditangani oleh orang-orang yang memiliki skill yang cukup memadai," ucap Adus.

Setelah kembali ke tanah air pada tahun 2024, Adus aktif melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat di berbagai daerah. Ia meyakini bahwa kemampuan teknis penyembelihan dapat ditingkatkan melalui dedikasi dan latihan yang konsisten.

"Semua itu bisa dilakukan dengan belajar, ikut pelatihan, dan menambah jam terbang," kata Adus.

Artikel terkait

Rekomendasi