KAI Commuter Tempatkan Gerbong Khusus Perempuan di Ujung Rangkaian

KAI Commuter Tempatkan Gerbong Khusus Perempuan di Ujung Rangkaian
Foto: Ilustrasi KAI Commuter Tempatkan Gerbong Khusus Perempuan di Ujung Rangkaian.

Penempatan gerbong khusus perempuan pada bagian paling depan dan belakang rangkaian kereta Commuterline (KRL) didasari oleh pertimbangan keamanan, kenyamanan, serta efisiensi operasional transportasi publik. Kebijakan ini kembali menjadi sorotan pasca insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Dilansir dari Suara, tabrakan yang melibatkan kereta tujuan Stasiun Surabaya Pasar Turi tersebut mengenai bagian ujung rangkaian KRL yang difungsikan sebagai area khusus penumpang perempuan. Operator menerapkan skema posisi di ujung rangkaian untuk mendistribusikan pola pergerakan penumpang agar tidak menumpuk di satu titik tengah peron stasiun.

Posisi di ujung rangkaian dinilai mempermudah akses bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, lanjut usia, dan penumpang dengan kebutuhan khusus untuk naik maupun turun lebih cepat. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko kepadatan berlebih di tengah rangkaian yang biasanya jauh lebih padat oleh arus penumpang campuran.

Selain faktor aksesibilitas, aspek pengawasan menjadi alasan utama letak gerbong berwarna pink tersebut. Petugas pelayanan kereta dapat lebih mudah memantau serta mengontrol sterilisasi gerbong dari penumpang pria karena posisinya yang terpisah di ujung rangkaian dan mudah dikenali melalui tanda visual dari kejauhan.

Penerapan gerbong khusus ini merupakan bagian dari kebijakan afirmasi Kementerian Perhubungan yang sudah berjalan sejak tahun 2010. Kebijakan tersebut muncul sebagai langkah konkret pemerintah dalam merespons tingginya risiko pelecehan seksual di transportasi umum serta memberikan ruang aman bagi perempuan di tengah padatnya jadwal perjalanan.

Meski demikian, kebijakan ini tetap menghadapi tantangan operasional dan kritik dari pengguna jasa layanan kereta. Beberapa keluhan yang muncul meliputi jarak tempuh yang lebih jauh dari tangga atau eskalator menuju ujung peron, serta kapasitas gerbong yang sering mencapai batas maksimal pada jam sibuk kerja.

Artikel terkait

Rekomendasi